Di Balik Seragam yang Tak Terbeli, Beban Ganda Orang Tua Jelang Tahun Ajaran Baru

Realita pahit kerap datang tanpa jeda. Baru saja merayakan hari raya, kini para orang tua harus segera dihadapkan pada pos pengeluaran besar untuk kebutuhan tahun ajaran baru. Bagi masyarakat kelas bawah dan pekerja berpenghasilan pas-pasan, transisi musim perayaan ke musim masuk sekolah kali ini terasa berkali-kali lipat lebih berat akibat kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.

Istilah “bernapas lega” kini menjadi kemewahan yang mahal. Dompet yang baru saja terkuras untuk memenuhi kebutuhan pokok menjelang lebaran, kini dipaksa kembali menyusut bahkan sering kali harus berhutang demi memastikan pendidikan anak-anak tetap berlanjut.

Pemandangan di sejumlah pasar tradisional dan toko perlengkapan sekolah pun tampak berbeda. Jika biasanya lapak seragam dan alat tulis riuh oleh antusiasme anak-anak, tahun ini atmosfernya terasa lebih redup dan penuh kalkulasi. Bukan karena orang tua kurang kasih sayang, melainkan karena realita ekonomi memaksa mereka untuk mengerem ekspektasi.

“Kalau ditanya anak, ya sedih, Mas. Saya ingin sekali membelikan seragam baru yang pas di badannya. Tapi tahun ini, seragam kakaknya yang sudah agak gantung terpaksa diturunkan ke adiknya. Yang penting mereka bisa tetap sekolah,” ujar Nurhayati (42), seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak, saat ditemui di pasar tradisional.

Suara Nurhayati adalah representasi dari jutaan kepala keluarga saat ini. Banyak orang tua terpaksa memutar otak lebih keras, menahan keinginan, atau bahkan menempuh jalur pinjaman demi memenuhi kebutuhan sekolah di tengah pendapatan yang cenderung jalan di tempat.

Fenomena “gali lubang tutup lubang” menjelang tahun ajaran baru seolah menjadi siklus tahunan yang tak terhindarkan, namun tahun ini terasa paling mencekik. Kombinasi harga kebutuhan pokok yang belum stabil memaksa para orang tua menyusun skala prioritas yang sangat ketat. Di media sosial, keluhan serupa terus menggema. Banyak yang menyoroti bahwa konsep “sekolah gratis” di atas kertas acapkali berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan; di mana biaya atribut, buku paket, dan uang kegiatan tetap menuntut nominal yang tidak sedikit.

Bagi mereka, pendidikan adalah satu-satunya tiket agar anak-anak memiliki nasib yang lebih baik. Namun, tiket tersebut kini terasa semakin sulit dijangkau. Jeritan senyap para orang tua ini seharusnya menjadi alarm keras bagi para pemangku kebijakan.

Pendidikan adalah hak dasar setiap warga negara, dan sudah sepatutnya negara hadir memastikan bahwa tahun ajaran baru tidak berubah menjadi “momok” yang merenggut ketenangan dapur masyarakat. Saat ini, masyarakat tidak lagi membutuhkan sekadar empati, melainkan solusi konkret mulai dari subsidi perlengkapan sekolah yang tepat sasaran, pengawasan ketat terhadap pungutan liar berkedok komite, hingga skema bantuan administrasi yang benar-benar meringankan.

Sebab, di balik seragam baru yang urung dibeli, ada harapan anak bangsa yang taruhannya adalah masa depan.

Penulis : Evicko Guantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!