Melepas Jas, Memacu Mesin Kanan, Sisi “Asik” Dedi Andrianto di Atas Vespa

Dunia politik seringkali dicitrakan dengan sekat-sekat kaku: dinding ruang sidang yang dingin, tumpukan berkas regulasi, hingga protokoler ketat yang membuat jarak antara pejabat dan masyarakat. Namun, bagi Dedi Andrianto, Wakil Ketua II DPRD Lampung Utara dari Fraksi PKB, sekat itu luruh seketika saat palu sidang diletakkan dan jas kepemimpinan ditanggalkan.

Pemandangannya berganti total. Sosok yang biasanya memimpin rapat dengan wibawa formal itu kini lebih akrab dengan helm retro, jaket santai, dan sebuah skuter ikonik yang setia menemaninya satu unit motor Vespa.

Dedi, mengendarai Vespa bukan sekadar mengikuti tren lifestyle atau pamer koleksi antik. Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar raungan mesin kanan yang khas. Ada nilai solidaritas tanpa batas yang ia amini sebagai prinsip hidup.

“Vespa itu mengajarkan kita soal solidaritas. Kalau ada yang mogok di jalan, semua berhenti,” selorohnya dengan tawa khas saat memanaskan mesin kesayangannya.

Pesan ini sederhana namun menohok. Di jalanan, tidak ada pangkat atau jabatan; yang ada hanyalah sesama pengendara yang siap sedia membantu jika yang lain kesulitan. Semangat inilah yang agaknya ia bawa ke kursi parlemen—bahwa menjadi wakil rakyat berarti harus siap “berhenti” dan turun tangan saat rakyatnya sedang “mogok” ditimpa masalah.

Gaya Dedi yang nyentrik ini tak jarang membuat orang “keki” atau bahkan heran. Di saat banyak pejabat publik memilih kenyamanan mobil mewah ber-AC untuk menghindari debu jalanan, Dedi justru memilih berkeringat di bawah terik matahari Kotabumi hingga pelosok Lampung Utara.

Namun, di sinilah letak keunikannya. Di atas Vespa, Dedi tampil tanpa jarak, tanpa protokoler, Ia bisa berhenti di warung kopi mana saja, ia mendengar keluh kesah warga secara langsung, dari telinga ke telinga, tanpa meja sidang yang memisahkan dan Ia menjadi manusia biasa yang merasakan debu dan angin yang sama dengan warga yang ia wakili.

Keseimbangan Antara Amanah dan “Healing” Meski terlihat asik dengan hobi otomotifnya, Dedi tidak melupakan marwahnya sebagai politisi profesional. Baginya, berkendara adalah cara terbaik untuk menjaga kesehatan mental di tengah beban kerja yang tinggi.

“Amanah rakyat itu berat, makanya butuh keseimbangan. Di kantor kita bicara data dan regulasi, di atas Vespa kita bicara tentang kebebasan dan persaudaraan,” ungkapnya.

Ini adalah bentuk “healing” yang produktif. Dengan pikiran yang jernih setelah memacu mesin kanan, ia kembali ke gedung Dewan dengan energi baru untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Aksi Dedi Andrianto memberikan pelajaran penting bagi wajah politik masa kini: Menjadi pejabat publik tidak harus selalu kaku dan membosankan. Melalui Vespa, ia mengirimkan pesan kuat bahwa sejauh apa pun jabatan membawa seseorang melangkah, ia harus punya cara untuk kembali ke akar—ke jalanan tempat rakyat berada.

Jadi, jika suatu sore Anda melihat seorang pria dengan senyum ramah sedang memacu Vespa melintasi jalanan Lampung Utara, jangan sungkan untuk menyapa. Di balik helm retronya, ada seorang wakil rakyat yang sedang menikmati “kemerdekaannya” setelah seharian tuntas bekerja untuk Anda. Vespa mungkin miring ke kanan, tapi hati dan keberpihakannya tetap lurus untuk rakyat. (RED).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!