Menelusuri Jejak Sejarah Raden Inten II Di Benteng Cempaka

Lampung Selatan- Jejak perjuangan melawan kolonialisme di tanah Lampung tidak bisa dilepaskan dari sosok Raden Inten II Gelar Kusuma Ratu (1834–1856). Sebagai keturunan Fatahillah dari pernikahan dengan Putri Sinar Alam dari Keratuan Pugung, Raden Inten II mewarisi darah luhur Kesultanan Banten dan memiliki ikatan erat dengan Kesultanan Aceh. Di usianya yang tergolong muda, ia telah tampil sebagai pemimpin karismatik yang gigih menentang hegemoni penjajahan Belanda demi mempertahankan kedaulatan tanah kelahirannya.

Kini, pusat pertahanan dan peristirahatan terakhir sang pahlawan di Benteng Cempaka, Desa Gedungharta, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, telah bersinergi menjadi destinasi wisata sejarah sekaligus religi yang sarat akan nilai edukasi. Berjarak sekitar 18 kilometer dari Kota Kalianda, situs ini menawarkan perjalanan spiritual dan wawasan masa lalu yang berbobot bagi para pengunjung.

Saat memasuki kawasan ini, wisatawan akan disambut oleh Tugu Raden Inten II yang berdiri kokoh. Di sekitarnya, terdapat gundukan tanah bersejarah yang dahulu berfungsi sebagai benteng pertahanan utama dalam menghadapi gempuran serdadu Belanda. Selain itu, ada museum mini didirikan di lokasi ini guna menyimpan berbagai barang peninggalan autentik sang pahlawan, yang menjadi media edukasi visual bagi generasi muda untuk memahami taktik dan kegigihan perjuangan masa lalu.

Dari sisi religi, daya tarik utama situs ini adalah Makam Raden Inten II. Tempat ini kerap dikunjungi peziarah yang ingin mendoakan serta mengambil keteladanan moral dari keteguhan iman dan keberanian beliau. Puncak peziarahan ilmiah dan spiritual ini terjadi setiap tanggal 5 Oktober, di mana Pemerintah dan masyarakat setempat menggelar peringatan Haul Raden Inten II untuk mengenang jasa, mendoakan arwah sang pahlawan, serta merefleksikan kembali nilai-nilai Nasionalisme yang berlandaskan nilai luhur agama.

Melalui integrasi wisata sejarah dan religi ini, Benteng Cempaka tidak hanya berfungsi sebagai pengingat memori kolektif Bangsa, tetapi juga sebagai laboratorium edukasi yang membentuk karakter generasi penerus yang menghargai jasa para pahlawannya. (Web: Dinas Pariwisata Lamsel/ Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!