Dibalik Cerita Toserba Taruko Tahun 2000-an

Lampung Utara- Bagi generasi 90-an hingga awal 2000-an di Lampung Utara, nama Taruko Toserba bukan sekadar bangunan. Toserba Taruko adalah saksi bisu dari gemerlap masa kecil, tempat jemari anak-anak menggenggam erat tangan orang tua mereka saat liburan tiba. Kini, tempat yang dulunya menjadi ikon kemegahan dan kebanggaan warga Kotabumi itu telah usang, sunyi, dan perlahan tenggelam dalam ingatan yang mulai memudar dan bahkan banguna gagah itu telah terpampang tulisan akan dijual.

Sebelum deretan minimarket modern mengepung sudut kota, dan jauh sebelum Ramayana Kotabumi berdiri megah mengambil alih mahkota pusat perbelanjaan, Taruko adalah satu-satunya tujuan. Menembus waktu ke dua dekade silam, bangunan ini selalu riuh. Wangi khas jajanan, aroma pakaian baru, suara mesin kasir yang saling bersahutan, hingga tawa anak-anak yang berlarian berburu mainan adalah simfoni harian di tempat ini.

Bagi masyarakat Lampung Utara kala itu, bisa pergi dan berbelanja ke Toserba Taruko adalah suatu kemewahan. Ada rasa bangga tersendiri ketika menenteng kantong belanja berlogo toserba legendaris ini. Ia adalah pusat peradaban modern pertama yang meretas jarak, membuat warga lokal tidak perlu jauh-jauh pergi ke Bandar Lampung hanya untuk merasakan sensasi berbelanja di swalayan.

Namun, roda zaman berputar tanpa kompromi.

Kini, jika Anda melintasi areanya, riuh rendah itu telah digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Dinding-dinding beton yang dulu dicat cerah kini mengelupas, kusam digerogoti cuaca dan usia. Kaca-kaca etalase yang dulu memajang mimpi-mimpi masa kecil kini berdebu, bahkan beberapa di antaranya telah retak. Taruko kini berdiri layaknya seorang tua yang kesepian di tengah deru modernisasi Kotabumi yang semakin cepat.

Banyak warga kerap menatap bangunan tua tersebut saat melintas. Bagi mereka, runtuhnya kejayaan Taruko seolah membawa pergi sebagian dari masa kecil mereka yang bahagia dan sederhana. Tempat itu kini tidak lagi menawarkan barang dagangan, melainkan memproduksi kerinduan yang mendalam bagi siapa saja yang pernah mengukir cerita di sana.

Taruko Toserba mungkin telah kalah telak dalam perang melawan waktu dan gempuran ritel modern. Fisiknya boleh saja usang, rapuh, dan terabaikan. Namun, bagi masyarakat Lampung Utara yang tumbuh bersamanya, Taruko akan selalu menempati ruang tersendiri di dalam hati, sebagai tempat di mana kemegahan kota pertama kali mereka kenal. (Riski/ Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!