Dari WBTb Hingga Kejar Rekor Muri, Trobosan Pemkab Menjaga Dan Melestarikan Budaya Lampura

Lampura- Berbagai trobosan dilakukan demi mewujudkan komitmen yang kuat Pemerintah Kabupaten untuk menjaga dan melestarikan warisan kebudayaan Lampung Utara, hal itu dibuktikan dengan langkah pengajuan penetapan warisan budaya takbenda ( WBTb).

WBTb adalah Pengakuan Nasional melalui Kementerian Kebudayaan yang bertujuan untuk pencatatan dan penetapan karya budaya lokal. Secara garis besarnya WBTb merupakan warisan yang hidup (living heritage) dan sangat bergantung pada pelakunya serta pengetahuan yang terus dipraktikkan (Hidup).

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lampung Utara, Perdana Putra menjelaskan Pemerintah Kabupaten Lampung Utara mengajukan enam kebudayaan untuk penetapan warisan budaya takbenda (WBTb),”Kita ketahui bahwa dalam sidang pertama yang digelar pekan lalu bahwa Takhi Igel yakni seni tari tradisional yang menampilkan keanggunan serta ketegasan gerakan telah dinyatakan siap menyandang status sebagai WBTb Indonesia 2026,”jelas Perdana diruangkerjannya, Selasa 7 Juli 2026

Sidang berikutnya, lanjutnya, harapan besar Pemerintah Kabupaten Lampung Utara lima warisan budaya yang diajukan tentunya dapat juga lolos menyandang status WBTb Indonesia,”Ada lima warisan kebudayaan Lampung Utara yang kita tunggu disidang-sidang berikutnya. Besar harapan kita bersama masuk dalam pengakuan Nasional (WBTb). Kita tunggu saja hasil sidang berikutnya. Jika nanti semuanya lolos ditetapkab WBTb, maka total kebudayaan ada enam,”terangnya.

Adapun kelima warisan kebudayaan yang menunggu  ditetapkan WBTb, menyusul Takhi Igel adalah :

  • Nanjar : Nanjar yang juga dikenal dengan sebutan Ngidang, Tanjaran, atau Nyetar, merupakan tradisi adat masyarakat Lampung berupa penyajian dan makan bersama di atas alas kain atau seprah yang dibentangkan memanjang. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun sejak masa nenek moyang, jauh sebelum masyarakat mengenal meja makan, dan hingga kini masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial dan adat masyarakat Lampung. Nanjar tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan makan bersama, tetapi juga sebagai simbol penghormatan kepada tamu, sarana mempererat silaturahmi, memperkuat hubungan kekeluargaan, serta mewujudkan nilai kebersamaan dan gotong royong dalam masyarakat.
  • Amuk : Amuk merupakan istilah yang berarti prajurit dalam masyarakat Lampung, khususnya Masyarakat Abung Pepadun, yang berperan sebagai pelindung Penyimbang. Amuk berfungsi sebagai simbol perlindungan, keberanian, kesetiaan, dan kehormatan dalam struktur kepenyimbangan adat. Keberadaan Amuk tidak hanya mencerminkan sistem pertahanan adat pada masa lampau, tetapi juga menjadi representasi identitas budaya yang masih dipertahankan hingga saat ini.
  • Motif Tapis Jung Sarat : Tapis Jung Sarat merupakan salah satu motif tapis klasik yang memiliki nilai sejarah, simbolik, dan estetika tinggi dalam budaya masyarakat Lampung Utara. Secara etimologis, jung berarti kapal dan sarat berarti penuh muatan. Makna tersebut melambangkan perjalanan hidup manusia yang sarat pengalaman, tanggung jawab, kebijaksanaan, dan kemakmuran.
  • Ratow : Ratow adalah kereta dorong beroda empat yang merupakan kendaraan adat Lampung Kemahiran dan ketrampilan dalam pembuatan Ratow beroda 4 yang terbuat dari kayu dan dihiasi kain putih sampai sekarang belum berkembang dengan pesat dikarenakan ada beberapa nilai spiritual yang harus dimiliki berupa kemahiran dan ketrampilan
  • Sesan : Sesan secara umum, sesan dimaknai sebagai wujud kasih sayang, perhatian, dan kebesaran hati orang tua serta keluarga besar kepada anak perempuan, terutama ketika akan memasuki jenjang pernikahan dan menjalani kehidupan baru. Tradisi ini merepresentasikan kekhawatiran, doa, dan dukungan moral maupun sosial keluarga terhadap masa depan anak perempuan, sehingga menjadi bagian penting dari identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Diketahui selain WBTb, Pemerintah Kabupaten Lampung Utara pun berencana  pada tahun 2027 mendatang akan mengajukan dua kebudayaan untuk dapat meraih museum rekor Dunia Indonesia (MURI),”Itu sudah diajukan dan tentunya akan dilakukan pelaksanaan untuk meraih MURI tersebut. Kebudayaan yang dimaksud yakni tari ighel mekhanai, dimana tari ighel bertujuan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat tentang penetapan tari ighel yang telah ditetapakan WBTb serta pelaksaan partade mikhul. Dari masing-masing akan diikuti seribu orang,”tukasnya.  (Yogi/ Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!