Borok Tata Kelola MBG, Kepala Badan Gizi Nasional Gandeng Kejagung Sikat Mitra Bermasalah

JAKARTA, Studio2News — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi garda terdepan pemenuhan gizi nasional mendadak diuji. Di balik masifnya operasional ribuan dapur umum di berbagai daerah, Badan Gizi Nasional (BGN) secara terbuka mengakui adanya borok tata kelola yang dilakukan oleh sejumlah mitra pengelola.

Kepala BGN Sudaryono mengungkapkan, dari total 27.469 dapur yang saat ini aktif beroperasi, pihaknya menemukan indikasi pelanggaran cara pengelolaan hingga dugaan afiliasi bermasalah dari para mitra di lapangan.

Langkah penyisiran total pun langsung dikibarkan. Tak tanggung-tanggung, BGN secara resmi menggandeng Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk mengaudit dan membersihkan dapur-dapur yang mencederai integritas program.

“Tapi ada juga mitra-mitra yang kemudian mungkin caranya salah, mungkin dulunya terafiliasi. Jadi dari 27.469 dapur yang sekarang ini aktif beroperasi, itu kami sisir semua,” tegas Sudaryono kemarin.

Ketegasan tersebut bukan tanpa alasan, Sudaryono mengingatkan bahwa taruhan dari program MBG ini bukan sekadar urusan logistik makanan, melainkan menyangkut aspek paling krusial yakni, kesehatan, keamanan, dan keselamatan nyawa jutaan masyarakat.

“ Oleh karena itu, BGN memastikan tidak akan memberikan ruang kompromi bagi pihak-pihak yang mencoba bermain-main,” tegasnya.

BGN menyatakan bakal tunduk dan menindaklanjuti setiap rekomendasi maupun temuan investigasi dari aparat penegak hukum. Sanksi tegas berupa pencabutan izin dipastikan bakal dijatuhkan tanpa toleransi jika terbukti ada pelanggaran hukum atau penyimpangan tata kelola.

“Intinya apa pun rekomendasi, apa pun temuan akan kami tindak lanjuti, kalau manakala terbukti tidak benar maka harus diberi sanksi kita cabut. Kami tidak mentolerir itu,” tandas eks Wakil Menteri Pertanian tersebut.

Kendati demikian, di tengah bersih-bersih mitra bermasalah ini, BGN tetap memberikan apresiasi tinggi kepada mayoritas pengelola yang terbukti bekerja dengan penuh integritas dan dedikasi.

Sudaryono menegaskan bahwa dirinya secara pribadi tidak memiliki kepentingan bisnis apa pun dalam pengadaan dapur tersebut, sehingga pembersihan ini murni demi menjaga marwah program negara. Ia juga meminta publik agar tidak serta-merta melabeli seluruh mitra sebagai pemburu rente atau pencari keuntungan semata.

Menurutnya, banyak pejuang di lapangan yang rela merogoh kocek pribadi hingga membakar modal demi membangun infrastruktur dapur yang layak demi suksesnya hajatan besar ini.

“Saya sekali lagi saya tidak punya dapur, jadi saya tidak ada kepentingan apa pun. Jadi bagi mitra yang banyak dan kebanyakan mitra itu baik, maka ini harus kita apresiasi,” ujar politikus Partai Gerindra itu.

Ia mengingatkan esensi dasar dari kata “mitra” itu sendiri yang diambil dari bahasa Sanskerta, yakni kawan atau sahabat. Peran mereka yang berinvestasi menggunakan modal mandiri untuk membangun fasilitas dapur dinilai sebagai bentuk gotong royong nyata yang harus dijaga dari segelintir oknum pencari untung sesaat.

“Ada mungkin mitra yang cari untung mungkin kebanyakan ada. Mitra itu bahasa Sanskerta yang artinya adalah kawan atau sahabat. Jadi mitra ini adalah orang yang mengeluarkan biaya, membangun pakai uangnya, membangun dapur,” pungkasnya. (Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!