TMMD Ke-129, Cerita Dari Rakyatmu Hidup Puluhan Tahun Memeluk Ketakutan

Lampung Utara- Bagi sebagian orang, hujan dan angin malam adalah pelengkap tidur nyenyak. Namun bagi Sri Astuti dan Waginem, setiap desir angin yang menerpa dinding lapuk rumah mereka adalah teror yang menakutkan. Berpuluh-puluh tahun, kedua wanita sepuh ini hidup dalam bayang-bayang ketakutan, akankah atap tempat mereka berteduh roboh dan menimbun mereka saat tertidur.

Kini, ketakutan yang mengendap puluhan tahun itu lenyap, berganti menjadi isak tangis haru. Program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Kodim 0412 Lampung Utara, hadir mengulurkan tangan, merobohkan dinding ketakutan, dan membangun kembali harapan mereka yang sempat pupus di Desa Baru Raharja, Kecamatan Sungkai Utara, Kabupaten Lampung Utara

“Ada Yang Ingin Saya Katakan, Saya Takut Rubuh…”

Kehidupan tak pernah benar-benar ramah bagi Sri Astuti. Di usianya yang tak lagi muda, memiliki rumah yang layak huni hanyalah mimpi indah yang tak berani ia gantungkan terlalu tinggi. Setiap kali angin kencang berembus, hatinya menciut. Rumah kayu yang melapuk dimakan usia itu terus bergoyang, seolah menanti waktu untuk runtuh.

Namun, kehadiran para prajurit TNI dalam Satgas TMMD ke-129 mengubah jalan hidupnya. Rumah yang dulu tak ubahnya sangkar rapuh, kini berdiri kokoh dan layak dihuni.

“Ada angin takut rubuh… Terima kasih sama Bapak TNI sudah dibikinin rumah bagus. Saya tidak bisa membalas apa-apa, biar Yang Kuasa yang membalas. Saya doakan Bapak-Bapak TNI rezekinya makin melimpah,” tutur Sri Astuti dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca.

Bagi Sri, ketulusan para prajurit yang bersiaga meneteskan keringat di bawah terik matahari demi merenovasi rumahnya adalah keajaiban yang tak pernah ia sangka.

Antara Buruh Harian dan Tiga Kali Bayang-Bayang Maut

Kisah serupa mengiris hati datang dari Waginem. Untuk sekadar menyambung hidup sehari-hari, Waginem menggantungkan nasibnya sebagai buruh harian. Penghasilannya yang tak menentu membuat jangankan berpikir untuk memperbaiki rumah, untuk membeli beras esok hari saja ia harus memeras keringat lebih keras.

“Main seharian kerja buruh untuk makan, ya cukup tidak cukup…” ungkap Waginem menahan sedih.

Keinginan memiliki rumah yang layak telah terkubur puluhan tahun dalam dadanya. Bahkan, ketakutan terbesarnya sudah berada di ambang batas. Tiga kali sudah ia merasa begitu dekat dengan maut akibat kondisi rumahnya yang hampir roboh saat ia tertidur.

“Saya itu sudah lama kepingin rumah yang bagus, tapi tidak pernah bisa bikin, Pak. Sekarang tidur di sini (dulu) saya takut… Tiga kali saya [hampir tertimpa]. Ya Allah, terima kasih banget, Gusti Allah Yang Kuasa memberikan jalan lewat bedah rumah ini,” bisiknya seraya mengusap air mata yang menetes di pipinya yang keriput.

Kerja sama antara aparat Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepala Desa setempat akhirnya mengakhiri derita panjang Waginem. Bagi Waginem, rumah baru ini bukan sekadar bangunan beratap dan berdinding kokoh, melainkan suatu kepastian bahwa ia kini bisa tidur dengan tenang tanpa perlu takut tak bisa terbangun lagi esok hari.

Bukan Sekadar Semen dan Batu, Tapi Pengabdian Tanpa Batas

Program TMMD ke-129 kembali membuktikan bahwa kemanunggalan TNI dengan rakyat bukan sekadar jargon di atas kertas. Di balik seragam loreng yang tegas, ada hati yang tulus merangkul rakyat kecil yang paling membutuhkan.

Senyum lega dan tetesan air mata dari Sri Astuti dan Waginem adalah saksi bisu: bahwasanya di sudut-sudut Desa yang jauh dari riuk pikuk kota, masih ada asa yang dirajut kembali. TMMD ke-129 tidak hanya membangun dinding beton dan mengatapi kayu yang lapuk, tetapi juga mengembalikan martabat, kedamaian, dan rasa aman bagi ketakutan rakyat yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Cinta Itu Lahir Dari Rakyatmu Dan Untukmu TNI Sang Penjaga Bangsa. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!