JAKARTA, studio2news – Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Lampung Utara, Feryza Agung, bergerak cepat menindaklanjuti arahan pusat agar seluruh petugas Satuan Tugas (Satgas) memperketat pengawalan dan bersikap responsif membantu jemaah selama menjalani fase puncak ibadah haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
Feryza Agung menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan seluruh elemen Satgas di lapangan untuk mengawasi dan mengawal pergerakan jemaah haji, khususnya yang berasal dari Kabupaten Lampung Utara.
“Kami mengimbau dengan sangat kepada seluruh jemaah haji agar tetap tertib dan disiplin mengikuti jadwal yang telah ditentukan, terutama terkait pergerakan dan keberangkatan menuju Arafah sebagai puncak ibadah haji 2026, hingga bergeser ke Muzdalifah dan Mina,” ujar Feryza Agung, Selasa (26/5/2026).
Berdasarkan jadwal yang dirilis, Agung menerangkan bahwa jemaah haji asal Lampung Utara sudah mulai diberangkatkan secara bertahap dari hotel atau pemondokan masing-masing menuju Arafah sejak Senin kemarin (25/5/2026).
“Pergeseran jemaah ini bertepatan dengan tanggal 8 Dzulhijjah 1447 Hijriah, sebagai awal dari rangkaian inti puncak ibadah haji,” jelas Agung.
Oleh karena itu, ia meminta jemaah untuk tidak melakukan pergerakan mandiri di luar skenario yang ada. Jemaah dilarang keras memisahkan diri atau mendahului rombongan tanpa koordinasi, serta diwajibkan selalu mematuhi instruksi dari petugas kloter, petugas sektor, maupun pembimbing ibadah demi menjamin keamanan dan ketertiban.
Sementara itu, melalui situs resmi Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI, pemerintah kembali mengingatkan seluruh jemaah untuk menjaga kepatuhan total terhadap ketentuan dan larangan kain ihram selama fase krusial ini berlangsung.
“Bagi jemaah laki-laki, kami ingatkan kembali agar tidak mengenakan pakaian berjahit yang membentuk lekuk anggota badan, tidak menutup kepala dengan peci atau sorban, serta menghindari alas kaki yang menutupi mata kaki dan tumit,” urai juru bicara kemenatrian, Maria.
“Sedangkan untuk jemaah perempuan, selama dalam keadaan ihram dilarang keras menutup wajah dengan cadar serta menggunakan sarung tangan. Seluruh jemaah juga wajib menjaga diri dari larangan ihram lainnya, seperti memotong kuku, mencabut rambut, memakai wangi-wangian setelah niat ihram, serta menjaga lisan dan perilaku agar kesucian ibadah tetap terjaga,” sambung Maria.
Mengingat fase Armuzna menuntut ketahanan fisik yang tinggi dan mobilitas yang intensif, Maria menekankan pentingnya menjaga stamina tubuh di tengah cuaca panas.
“Kami meminta jemaah untuk menghemat energi dengan istirahat yang cukup, makan teratur, memperbanyak konsumsi air putih, serta menghindari aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak,” tuturnya.
Jemaah juga disarankan selalu membawa payung, masker, obat-obatan pribadi, serta langsung melapor ke posko kesehatan terdekat jika mulai merasakan gejala lemas, pusing, atau sesak napas.
Untuk menjamin layanan medis berjalan optimal, pemerintah telah menyiagakan masing-masing satu Pos Kesehatan Indonesia utama di wilayah Arafah dan Mina. Tak hanya itu, sebanyak 657 petugas Satgas Arafah juga telah disebar secara taktis di berbagai titik layanan jemaah. Pemerintah turut mengetuk kepedulian antarjemaah untuk saling menjaga selama di tanah suci.
“Jika melihat ada jemaah yang tampak kebingungan, kelelahan, atau terpisah dari rombongannya, mohon segera dibantu dan dilaporkan kepada petugas terdekat. Semoga seluruh jemaah Indonesia diberikan kekuatan dan kelancaran dalam menjalani wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga melontar jumrah di Mina,” pungkas Maria. (Red)













