STUDIO2SPORT – Langkah Timnas Brasil di Piala Dunia 2026 harus terhenti secara dramatis di babak 16 besar. Bermain di Stadion MetLife, Senin (6/7) pagi WIB, Selecao dipaksa mengakui keunggulan Norwegia dengan skor tipis 1-2.
Kekalahan ini tidak hanya menjadi pukulan telak bagi Brasil, tetapi juga menandai momen yang memilukan bagi sang mega bintang, Neymar Jr.
Duel melawan Norwegia menjadi panggung terakhir Neymar berseragam kuning kebanggaan Brasil. Usai peluit panjang dibunyikan, emosi tak terbendung. Mantan pemain Barcelona dan PSG tersebut tampak tersungkur di atas rumput lapangan sambil menangis tersedu-sedu, sebelum akhirnya ditenangkan oleh rekan-rekan setimnya.
“Saya sudah berusaha, saya sudah berusaha. Sekarang sudah berakhir,” ungkap Neymar dengan getir saat diwawancarai oleh Globo, sebagaimana dikutip dari ESPN.
Pertandingan berjalan dengan tensi tinggi. Brasil sebenarnya memiliki peluang emas untuk memimpin lebih awal melalui penalti Bruno Guimaraes pada menit ke-14. Namun, upaya tersebut dimentahkan dengan gemilang oleh kiper Norwegia, Orjan Nyland.
Norwegia tampil sebagai ancaman nyata melalui ketajaman Erling Haaland. Striker haus gol tersebut sukses mencetak brace atau dua gol kemenangan melalui aksinya pada menit ke-79 dan 90′. Brasil sempat memberikan perlawanan lewat penalti Neymar pada menit ke-90+10, namun waktu yang tersisa tak cukup bagi mereka untuk mengejar ketertinggalan.
Keputusan pensiun Neymar menutup babak panjang perjalanannya bersama Timnas Brasil yang dimulai sejak Agustus 2010. Menariknya, debut Neymar saat menghadapi Amerika Serikat di stadion yang sama, MetLife, juga diwarnai dengan gol perdana untuk negaranya.
Selama 16 tahun membela Selecao, Neymar telah mengukir catatan impresif dengan tampil dalam 130 pertandingan di berbagai ajang. Ia menutup karier internasionalnya dengan torehan fantastis: 80 gol, sebuah angka yang melampaui rekor legenda Brasil, Pele, sebanyak tiga gol.
Dengan berakhirnya karier internasional Neymar, dunia sepak bola kini harus bersiap merelakan salah satu talenta terbesar generasinya yang memilih untuk menanggalkan seragam kebesaran demi menutup lembaran sejarah yang emosional. (Diq).













