H. Zainal Abidin Pagaralam, Sang Arsitek Fondasi Dan Gerbang Pembangunan Provinsi Lampung

Bandar Lampung – Menelusuri sejarah berdirinya Provinsi Lampung tidak dapat dilepaskan dari cetak biru perjuangan tokoh lintas zaman, mengutip dari Wikipedia, H. Zainal Abidin Pagaralam, Lahir pada era kolonial, tepatnya 29 Februari 1916, perjalanan hidupnya menjadi saksi sekaligus penggerak transisi besar Indonesia—mulai dari masa penjajahan, era kemerdekaan, hingga fajar Orde Baru.

Zainal Abidin Pagaralam bukan sekadar pemimpin formal; ia adalah salah satu peletak dasar Pemerintahan, arsitek pembangunan, sekaligus konseptor utama yang membidani lahirnya Provinsi Lampung sebagai Daerah otonom yang mandiri pada tahun 1964.

Sebelum dipercaya memimpin Lampung secara keseluruhan, Zainal Abidin meniti karier birokrasi yang sangat panjang dan solid di berbagai Daerah. Pengalaman kepemimpinannya membentang dari tingkat Kabupaten hingga kota, di antaranya:

  • Bupati Lampung Utara (1950)
  • Bupati Lampung Selatan (1954)
  • Bupati Belitung (1955–1957)
  • Wali Kota Tanjung Karang/Teluk Betung (kini wilayah Bandar Lampung)

Kematangan birokrasinya kian teruji saat ia ditunjuk sebagai Residen Keresidenan Daerah Lampung (Residentie der Lampongsche Districten), pada masa wilayah ini masih berada di bawah naungan administratif Provinsi Sumatera Selatan. Pemahaman mendalam mengenai peta geopolitik dan potensi Lampung inilah yang kemudian mendorongnya memprakarsai pemisahan diri Lampung menjadi Provinsi mandiri.

Atas sumbangsih dan kapasitas kepemimpinannya, Zainal Abidin Pagaralam diangkat menjadi Gubernur Lampung periode 1966–1973, menggantikan Kusno Danupoyo, sebelum akhirnya tongkat estafet kepemimpinan diteruskan oleh R. Sutiyoso.

Masa jabatannya menjadi era krusial dalam meletakkan infrastruktur masa depan Lampung. Tiga warisan monumentalnya yang hingga hari ini menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Lampung meliputi:

  1. Sektor Pendidikan (Universitas Lampung), Ia menjadi salah satu tokoh kunci yang memprakarsai berdirinya Universitas Lampung (Unila), membuka akses pendidikan tinggi bagi putra-putri Daerah.
  2. Konektivitas Udara (Bandara Radin Inten II), Di bawah komandonya, gerbang udara Lampung mulai dibangun, membuka akses mobilitas regional dan nasional.
  3. Konektivitas Laut (Pelabuhan Bakauheni), Ia merupakan sosok yang menggagas pembangunan Pelabuhan Bakauheni, sebuah visi brilian yang kini memosisikan Lampung sebagai beranda utama sekaligus pintu gerbang Pulau Sumatera.
  4. Zainal Abidin Pagaralam wafat pada 6 September 1989 dalam usia 73 tahun. Meski sang tokoh telah tiada, legacy atau warisan pembangunannya tetap hidup, bergerak, dan menjadi fondasi utama yang menggerakkan roda ekonomi serta gerbang kemajuan Provinsi Lampung hingga hari ini. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!