LAMPUNG UTARA, Studio2News – Niat hati ingin meringankan beban hidup warga kurang mampu, bantuan material pembuatan jamban sehat bagi Mbah Suminem di Desa Bindu, Kecamatan Abung Kunang, Kabupaten Lampung Utara, justru berujung kekecewaan mendalam.
Alih-alih segera direalisasikan, material bangunan yang diserahkan sejak tahun lalu kini hanya menjadi saksi bisu dari janji-janji kosong kepala desa.
Bantuan material berupa semen dan perlengkapan sanitasi tersebut sejatinya telah diserahkan secara resmi pada 27 September 2025 lalu. Penyerahan itu melibatkan pihak Kasubsektor Abung Kunang bersama tim Lokmin KB Kecamatan Abung Kunang, dan diterima langsung oleh Kepala Desa Bindu. Saat penyerahan, sang kades dengan penuh percaya diri berjanji akan segera merampungkan pembangunan fasilitas MCK tersebut dalam waktu dekat. Namun, kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik.

Hingga hari ini, tumpukan material bantuan tersebut mangkrak begitu saja tanpa ada kejelasan. Akibat terlalu lama dibiarkan tanpa penanganan, kantong-kantong semen kini telah mengeras dan membatu.
Mbah Suminem, warga penerima bantuan yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, hanya bisa mengelus dada. Jangankan memikirkan biaya tukang atau ongkos galian sebesar Rp200.000, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja ia sudah kesulitan setengah mati.
“Bagaimana saya mau buat sendiri, untuk makan saja susah. Demi Allah, dia (kades) janji sama saya,” ungkap Kasubsektor Abung Kunang, AIPTU Husni Tamrin seraya menirukan perkataan Mbah Suminem.
Merasa geram dengan mangkraknya bantuan kemanusiaan tersebut, Kasubsektor Abung Kunang, AIPTU Husni Tamrin, langsung bergerak cepat turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan langsung dan mendokumentasikan kondisi nyata di rumah Mbah Suminem.

Kekecewaan AIPTU Husni Tamrin memuncak setelah menghadiri sebuah forum desa. Dalam forum tersebut, sang kepala desa justru melontarkan pernyataan bernada pembelaan diri yang dinilai memutarbalikkan fakta, seolah-olah Mbah Suminem sendiri yang menolak untuk dibuatkan jamban.
” Tadi di forum kades bilang ibu itu yang nggak mau dibuatin, makanya langsung saya survei dan buat video. Jadi malah beribu-ribu alasan kades di forum. Intinya kepedulian nggak ada, Allah belum kasih hidayah,” ujar AIPTU Husni Tamrin geram.
Menurutnya, jika sejak awal pihak desa bersikap terbuka dan jujur mengenai ketidaksanggupan mereka, pihak kepolisian bersama para donatur pasti akan mencari jalan keluar lain demi kelayakan hidup Mbah Suminem.
Kasus ini menjadi potret hitam rendahnya empati dan tanggung jawab moral seorang pemimpin di tingkat desa. Sumbangan material yang seharusnya menjadi jalan keluar atas kesulitan warga miskin, justru dikhianati oleh janji manis yang berakhir pada pembiaran. (Red).













