Lampung Utara- Bagi generasi yang tumbuh besar di Kabupaten Lampung Utara era 1980-an hingga awal 2000-an, hari libur bukan tentang berselancar di media sosial atau scrolling aplikasi streaming. Hiburan termewah kala itu adalah berjalan rapi menuju pusat kota Kotabumi, mengantre di loket kayu, dan menikmati bisingnya mesin proyektor di dalam gedung bioskop.
Kini, nama-nama seperti Bioskop Garuda, Bioskop Cinema, dan Bioskop Bumi Jaya serta Biora mungkin hanya menjadi sepotong ingatan bagi sebagian orang. Namun, pada masa jayanya, ketiga tempat ini adalah jantung kebudayaan dan hiburan masyarakat Kotabumi yang tak tergantikan.
Salah satu yang paling melekat dalam ingatan warga adalah Bioskop Bumi Jaya yang terletak di kawasan Pasar Dekon, Kotabumi. Didirikan sekitar akhir tahun 1970-an dan Bioskop Bumi Jaya kini menjelma menjadi saksi bisu romansa dan hiburan rakyat.
Tidak jauh dari situ, Bioskop Cinema dan Bioskop Garuda, Biora juga menjadi alternatif favorit. Keempatnya membagi porsi tontonan yang adil bagi masyarakat Lampung Utara: mulai dari film laga Mandarin (Bruce Lee dan Jackie Chan), film India yang menguras air mata (Kuch Kuch Hota Hai di akhir 90-an), horor lokal yang mencekam karya Suzzanna, hingga film-film perjuangan yang membakar semangat.
Suasana bioskop tempo dulu sangat kontras jika dibandingkan dengan bioskop modern di dalam mal saat ini. Penonton harus rela duduk di kursi-kursi kayu panjang tanpa busa empuk. Pengondisi udara (AC) sering kali digantikan oleh kipas angin dinding yang berputar lambat, atau bahkan embusan angin malam yang masuk dari celah ventilasi. Namun, dalam ruang remang-remang itulah, hawa panas dan pesingnya kamar mandi seolah menguap begitu film dimulai dan sorot lampu proyektor menyentuh layar putih besar di depan.
Memori yang paling membekas tentu saja ada pada harga tiketnya. Di masanya, harga tiket masuk berkisar antara 5000 ribu rupiah dimana nominal yang saat itu sudah cukup berharga, namun masih sangat ramah di kantong remaja, anak sekolah, maupun para pekerja perkebunan yang ingin melepas penat di akhir pekan.
Seiring berjalannya waktu dan inflasi di awal tahun 2000-an, tarif menonton perlahan naik hingga menyentuh Rp10.000 ribu rupiah per tiket. Angka sepuluh ribu rupiah saat itu sudah dianggap sebagai tarif “film premium” atau saat bioskop kedatangan film-film box office Indonesia yang sedang meledak. Mengantongi lembaran uang tersebut sudah cukup untuk membuat malam minggu seorang pemuda Kotabumi terasa sangat bergengsi di depan pasangannya.
Sebelum film dimulai, area luar bioskop biasanya akan berubah menjadi pasar malam dadakan. Pedagang es campur, kacang rebus, jagung bakar, hingga harum manis (rambut nenek) berjejer menjajakan dagangan. Wangi minyak rambut dan parfum yang menyengat bercampur dengan kepulan asap rokok dari para penonton yang mengobrol seru sambil menunggu pintu studio dibuka oleh petugas.
Kejayaan Bioskop Bumi Jaya, Garuda dan Cinema serta Biora perlahan mulai meredup ketika teknologi VCD dan DVD bajakan mulai merangsek masuk ke rumah-rumah warga di awal tahun 2000-an. Ditambah lagi dengan menjamurnya stasiun televisi swasta yang menyajikan sinetron dan film gratis, satu per satu layar bioskop independen di Daerah terpaksa gulung tikar karena sepi penonton.
Saat ini, kondisi fisik bangunan-bangunan legendaris tersebut sebagian besar telah beralih fungsi bahkan papan nama bercat minyak yang dulu memajang poster film lukisan tangan kini sudah hilang tak berbekas.
Meski raganya kini kian menua dan bahkan beberapa di antaranya rata dengan tanah atas nama modernisasi kota, kenangan tentang romansa Rp5.000 di dalam Bioskop Garuda, Cinema, dan Bumi Jaya serta Blora akan selalu memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Lampung Utara. Tempat di mana dunia terasa begitu luas dan indah, hanya lewat selembar kain putih bernama layar tancap modern di masanya. (Yogi/ Red)













