Angkon Muakhi, Kala Adat Lampung Satukan Keberagaman dan Eratkan Persaudaraan

LAMPUNG UTARA, Studio2News – Tradisi adat Lampung kembali membuktikan kekuatannya sebagai perekat bangsa yang melampaui sekat-sekat suku dan latar belakang.

Melalui prosesi sakral Angkon Muakhi, Pangdam XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, resmi diangkat menjadi saudara dalam keluarga besar masyarakat adat Lampung, khususnya masyarakat adat Abung Siwo Migo.

Prosesi yang berlangsung khidmat di Jalan Teratai, Kelurahan Kelapa Tujuh, Kotabumi, Kamis (8/7/2026).

Ini adalah pengakuan mendalam bahwa persaudaraan sejati tidak dibatasi oleh garis keturunan, melainkan dibangun atas dasar penghormatan, tanggung jawab, dan komitmen menjaga kearifan lokal.

Mayjen TNI Kristomei Sianturi, yang lahir dan dibesarkan di Lampung Utara, resmi diterima menjadi warga adat Pungguk Lama. Ia dianugerahi gelar adat Raja Satria Negara dalam prosesi Megawo Adat, dan gelar Pangeran Satria Negara pada prosesi Turun Mandei.

Sang istri, Desi Asti Megasari, turut menyandang gelar kehormatan Ratu Ibu Pertiwi dalam prosesi Megawo Adat, dan Pangeran Ratu Ibu Pertiwi dalam prosesi Turun Mandei. Gelar ini disematkan langsung oleh tokoh masyarakat setempat, Ansyori Sabak, yang bergelar Suttan Rajo Putra Negara.

Bagi Ansyori, pengangkatan ini adalah bentuk penegasan bahwa Kristomei adalah putra asli Lampung Utara.

“Beliau adalah aset daerah. Meski berasal dari suku Batak, perjalanan hidupnya menjadikan beliau bagian tak terpisahkan dari masyarakat adat Lampung. Ini adalah sejarah bagi anak cucu kita, bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk menyatu,” ujar Suttan Rajo Putra Negara.

Pangdam XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, menyampaikan rasa syukur yang mendalam. Baginya, penganugerahan gelar ini melengkapi ikatan batinnya dengan tanah kelahirannya.

“Air yang pertama saya minum adalah air Lampung Utara. Dengan gelar adat ini, ikatan batin itu kini memperoleh pengakuan secara formal,” ujarnya haru.

Tokoh adat Pungguk Lama, Ibnu Hajar gelar Suttan Guttei Sang Rateu, menambahkan bahwa Angkon Muakhi mengandung amanah besar.

“Ketika seseorang diangkat menjadi saudara, ia memikul tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik keluarga besar adat dan memperkokoh keharmonisan masyarakat,” jelasnya.

Suasana kebersamaan semakin terasa saat prosesi dilanjutkan dengan Sewarei penguatan hubungan persaudaraan. Dalam momen ini, Pangeran Satria Negara (Kristomei Sianturi) menjalin hubungan saudara dengan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal (Suttan Tihang Negara), Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama, mantan Bupati Lampung Tengah Mustofa, hingga Ketua BEM U KBM Unila, Aditiya Putra Bayu.

Hadir dalam kesempatan tersebut Bupati Lampung Utara, Hamartoni Ahadis (Pangeran Dewantara), serta berbagai tokoh penting mulai dari jajaran Forkopimda, penyimbang adat, hingga tokoh agama.

Bupati Hamartoni Ahadis mengapresiasi langkah ini sebagai upaya melestarikan warisan leluhur. Ia berharap ikatan kekeluargaan yang terjalin tetap abadi hingga generasi mendatang.

Rangkaian sakral ini akan ditutup dengan prosesi Turun Mandei yang dijadwalkan berlangsung di Obyek Wisata Pasir Putih, Kabupaten Lampung Selatan, pada Sabtu (11/7/2026), sebagai simbol kebersamaan yang terus meluas dan mempererat harmoni di tanah Lampung. (Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!