Di Kota Metro Lampung, Sampah Peluang Menuju Umrah

Metro- Pemerintah Kota Metro resmi meluncurkan program inovatif bertajuk “Dari Sampah Menuju Umroh” di Pesantren Bank Sampah, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Metro Utara kemarin. Langkah strategis ini mengintegrasikan kepedulian lingkungan dengan peningkatan literasi keuangan masyarakat melalui pembukaan rekening nasabah hasil kerja sama dengan Bank Negara Indonesia (BNI) Kota Metro.

Wali Kota Metro, Bambang Iman Santoso hadir langsung untuk meresmikan peluncuran tersebut. Dalam sambutannya, Bambang mengapresiasi kolaborasi apik antara pengelola Pesantren Bank Sampah dan pihak perbankan yang berhasil mengubah persepsi terhadap sampah menjadi sebuah peluang bernilai ibadah.

“Pemerintah Kota Metro senantiasa mendukung penuh program ini. Pembukaan rekening dengan konsep ‘Dari Sampah Menuju Umroh’ adalah sebuah gagasan dan inovasi yang luar biasa,” ujar Bambang.

Ia menambahkan bahwa program ini bukan sekadar upaya menjaga kebersihan lingkungan, melainkan juga wadah untuk menanamkan nilai kemandirian, kedisiplinan, dan tanggung jawab ekonomi sejak dini. Kegiatan sederhana seperti memilah sampah rumah tangga kini bertransformasi menjadi ikhtiar ekonomi sekaligus investasi ibadah yang meringankan beban masyarakat.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Wali Kota Metro memberikan tabungan awal kepada para penggerak bank sampah yang telah membuka rekening. Pemkot Metro juga berkomitmen menyalurkan bantuan peralatan pendukung guna menunjang produksi kerajinan berbahan dasar limbah olahan.

Pada kesempatan yang sama, Owner Pesantren Bank Sampah, Slamet Riyadi menjelaskan bahwa peluncuran rekening ini diawali oleh 30 orang penggerak pertama. Langkah ini menjadi momentum penting untuk memperkuat tata kelola organisasi, baik dari sisi administrasi, produktivitas, maupun kualitas pelayanan.

“Ini adalah wujud komitmen kami sejak bulan lalu bahwa pengelolaan Bank Sampah harus ditata lebih baik. Kami ingin meyakinkan masyarakat bahwa sampah memiliki nilai ekonomi yang nyata jika dikelola dengan benar,” jelas Slamet.

Slamet memaparkan bahwa hampir seluruh jenis sampah kecuali limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) kini diolah kembali menjadi produk bernilai jual tinggi. Metode ini efektif memangkas volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) sekaligus mendatangkan profit bagi warga.

Melalui sinergi kuat antara pemerintah daerah, sektor perbankan, dan masyarakat, gerakan ini diharapkan mampu menjadi pemantik budaya peduli lingkungan yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan umat. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!