BANDAR LAMPUNG – Langkah strategis dilakukan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal dimana dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Peningkatan Produksi Pangan pekan lalu, Rahmat Mirzani Djausal melahirkan suatu ikhtiar besar untuk mengukuhkan posisi Provinsi Lampung sebagai garda terdepan sekaligus Daerah kunci dalam mewujudkan kedaulatan pangan Nasional.
Pemerintah pusat tidak sedang berspekulasi saat menaruh harapan besar pada pundak Lampung. Suatu target ambisius namun realistis telah ditetapkan: perluasan luar tanam padi di Lampung didorong untuk mencapai angka 850 ribu hingga 1 juta hektare per tahun.
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menegaskan bahwa optimalisasi lahan dan perluasan area tanam ini merupakan harga mati yang harus diperjuangkan. Langkah ini bukan sekadar mengejar angka-angka statistik di atas meja birokrasi, melainkan upaya konkret untuk memastikan keringat para petani bertransformasi menjadi kesejahteraan yang nyata.
“Lampung memiliki segalanya. Kita punya tanah yang subur, air yang mengalir, dan yang paling penting, kita memiliki petani-petani tangguh yang menjadi pahlawan pangan sesungguhnya,” ungkap RMD optimis.
Keyakinan Pemerintah pusat bukan tanpa dasar. Data terbaru dari Kementerian Pertanian menunjukkan kurva yang terus menanjak dari Bumi Ruwa Jurai. Kontribusi Lampung terhadap produksi beras Nasional kini merangkak naik hingga menyentuh angka 5,97%.
Suatu angka yang mungkin terlihat kecil bagi orang awam, namun bagi para pengamat ekonomi pertanian, ini adalah sinyal kuat bahwa Lampung sedang bergerak menjadi raksasa pangan yang kian diperhitungkan. Setiap bulir padi yang dipanen di Lampung kini memiliki daya tawar yang kian magis dalam menjaga stabilitas inflasi dan pasokan pangan nasional.
Kekuatan agraria Lampung sejatinya terletak pada keberagamannya. Daerah ini tidak hanya bertumpu pada satu kaki. Di samping hamparan padi, bumi Lampung adalah rumah bagi jutaan ton jagung dan singkong yang menjadi bahan baku industri serta pakan ternak Nasional.
Namun, Pemerintah tidak ingin berpuas diri. Melalui arah kebijakan yang baru, komoditas penyangga lain khususnya sektor hortikultura kini mulai dilirik serius. Pola pembinaan petani kini digeser menjadi lebih modern dan profesional. Petani Lampung tidak lagi sekadar diajarkan cara menanam, melainkan dididik untuk memahami rantai pasok, membaca pasar, dan mengadopsi teknologi pertanian tepat guna.
Menjadikan Lampung sebagai lumbung pangan utama Indonesia adalah perjalanan panjang yang membutuhkan sinergi dari hulu ke hilir. Melalui komitmen kepemimpinan yang kuat dan modernisasi pertanian, swasembada pangan bukan lagi sekadar mimpi muluk masa lalu, melainkan realitas yang sedang dijemput di tanah Lampung. (Sandi Putra/ Red)













