Studio2- Baru juga memasuki hari ketiga pembelajaran jarak jauh (PJJ) daring, suasana di rumah-rumah warga sudah mirip arena latihan fisik dan mental. Ruang keluarga yang tadinya tempat santai, mendadak “disulap” jadi ruang kelas darurat lengkap dengan tumpukan buku, gawai, dan orang tua yang mendadak gagap dengan materi pendidikan saat ini.
Ibu dan ayah yang biasanya sibuk dengan rutinitas harian atau urusan kantor, kini terpaksa melakoni peran ganda yang bikin elus dada, jadi guru pengganti mendadak. Tak sekadar mendampingi anak menyalakan laptop atau ponsel, orang tua kini dituntut paham materi pelajaran yang rumitnya kadang bikin geleng-geleng kepala.
Di balik keribetan saban pagi, ada tawa dan kepasrahan yang dirasakan hampir semua orang tua. Keluh kesah pun mulai bersahutan di media sosial maupun grup percakapan:
- Tumpukan Tugas: Beban tugas yang datang bertubi-tubi bikin anak kelimpungan, dan orang tua makin pusing.
- Materi Tingkat Tinggi: Banyak orang tua mengaku materi sekolah zaman sekarang jauh lebih sulit dibanding zaman mereka sekolah dulu.
- Ujian Kesabaran: Membagi waktu antara pekerjaan utama dan mengajari anak butuh tingkat kesabaran setinggi langit.
“Kadang bingung ini yang lagi disekolahin anaknya atau orang tuanya. Buka buku pelajaran anak zaman sekarang rasanya beda banget sama zaman kita dulu,” celetuk salah satu orang tua murid sambil tertawa getir.
Meski penuh dinamika lucu dan bikin pusing, momen ini justru menjadi bukti betapa luar biasanya perjuangan para orang tua. Ada rasa bangga saat melihat anak berhasil memahami pelajaran berkat pendampingan sendiri di rumah dan ada juga orang tua yang diam, seraya memegang kepala sendiri dengan kedua tangannya.
Namun, fenomena di hari ketiga ini menjadi alarm penting bagi para pemangku kebijakan pendidikan. PJJ seharusya bukan sekadar memindahkan beban papan tulis ke meja makan rumah. Evaluasi terhadap volume tugas, penyederhanaan kurikulum, dan metode penyampaian materi mutlak diperbaiki.
Pembelajaran jarak jauh pada hakikatnya adalah panggung kolaborasi.
- Pihak Sekolah: Perlu lebih berempati dalam memberikan bobot tugas.
- Orang Tua: Tetap mendampingi tanpa harus merampas kebahagiaan anak.
- Komunikasi Dua Arah: Membangun dialog yang sehat antara guru dan orang tua.
Proses mendidik anak di masa transisi ini tidak boleh mengorbankan kesehatan mental, baik bagi sang anak maupun orang tua yang mendadak jadi guru di rumah. Pada akhirnya, sinergi yang kuat akan membuat proses belajar tetap bermakna. (Red)













