Lampung Utara- Bagi sebagian orang, gunung adalah tempat rekreasi untuk melepas penat. Namun bagi seorang pemuda asal Lampung Utara, deretan puncak megah di Nusantara adalah ruang kelas terbesar tempat ia menguji batas kemanusiaannya. Yosep Arizandi memulai langkah kaki sejak usia 20 tahun karena rasa penasaran sederhana, justru berubah menjadi candu positif yang membawanya menjelajahi rimba Sumatera hingga tanah Jawa.
Bergabung dengan komunitas Pendaki Lampung, Yosep Arizandi bukan sekadar pelancong yang memburu foto estetik. Ia adalah seorang petualang sejati. Di kalangan rekan-rekannya, namanya kerap mengundang decak kagum karena keberaniannya yang tak biasa: melakukan pendakian solo hiking atau seorang diri di gunung-gunung yang bahkan belum pernah ia injak sebelumnya. Suatu tindakan yang menuntut kesiapan mental baja dan navigasi tingkat tinggi.
Sifat pemberaninya diuji secara ekstrem saat ia memutuskan melakukan observasi jalur mandiri di Gunung Tangki Tebak, Kecamatan Tanjung Raja. Gunung setinggi 2.115 mdpl yang akrab disapa Gunung Abung oleh warga lokal ini merupakan atap tertinggi kedua di Provinsi Lampung setelah Gunung Pesagi. Jalurnya legendaris di kalangan pendaki sebagai “jalur sunyi” rimba dengan vegetasi rapat, liar, dan jarang terjamah manusia.
Ditengah keheningan hutan pekat yang mencekam itu, petualangan hampir berubah menjadi tragedi. Saat sedang merintis jalan membelah rimbunnya hutan, ditengah pendakian gunung kakinya terpeleset dilereng yang terjal. Dalam hitungan detik yang kacau, golok yang ia gunakan untuk membuka jalur terayun tak terkendali dan menyabet tangannya sendiri.
“Saat itu saya berada dipertengahan gunung, membuka akses jalan dan memang gunung tanki tebak adalah gunug yang masih asri. Bersih dan alami, gunung tertinggi kedua di Provinsi Lampung dan yang harus kita jaga bersama keasrian dan kealamiannya,”ujar Yosep Arizandi
Di sinilah mental dan edukasi survival (bertahan hidup) yang sesungguhnya berbicara. Jauh dari sinyal ponsel, tanpa tim penyelamat, dan terkunci di tengah hutan liar, panik adalah tiket menuju kematian. Dengan sisa rasa tenang yang luar biasa, Yosep Arizandi membalut lukanya sekadar untuk menahan pendarahan. Memanfaatkan seutas tali tenda, dengan satu tangan yang terluka parah dan menahan rasa sakit yang mendera setiap pasokan oksigennya, ia merayap turun perlahan menuruni lereng gunung. Perjuangan pulang yang didorong oleh satu tekad: bertahan hidup.
Darah segar mengucur deras di tengah hutan belantara yang sepi. Luka robek itu begitu dalam dan akhirnya membutuhkan 13 jahitan untuk menutupnya.
Kisah dari Tangki Tebak tidak membuatnya jera, namun menjadikannya manusia yang lebih bijaksana. Alam tidak hanya mengujinya secara fisik, tetapi juga secara spiritual. Saat menapaki Gunung Seminung, Yosep Arizandi sempat mendapatkan “teguran” ghaib dari sosok wanita misterius.
Pengalaman mistis ini tidak membuatnya takut, melainkan menumbuhkan rasa hormat yang mendalam. Kejadian itu menjadi pengingat abadi baginya dan bagi seluruh pendaki bahwa manusia hanyalah tamu. Etika, kesopanan, dan penghormatan terhadap adat serta kearifan lokal adalah hukum tertinggi yang wajib dibawa di dalam tas keril.
“Waktu saya lagi mendirikan tenda di gunung seminug, saya punya firasat seperti ada hal berbeda seperti tidak biasanya. Namun, saya abaikan saja karena saya tetap yakin jika Tuhan melindungi dan saya juga tidak ada niatan buruk. Yach…, suara seperti seorang wanita yang menyapa saya saja,”urai Yosef seraya tersenyum
Trauma cedera hebat dan pekatnya cerita mistis terbukti gagal mematahkan semangatnya. Jiwa petualang sang putra Daerah Lampung Utara ini justru semakin membara. Setelah menuntaskan rasa penasarannya di berbagai puncak Sumatera, Yosef Arizandi melintasi selat, membawa nama Lampung ke tanah Jawa.
Pada tahun 2025, lembaran sejarah terakhir dari petualangannya menjajaki gunung kembali diukirnya. Ia berhasil menapakkan kaki di puncak Gunung Ciremai, Jawa Barat dimana gunung itu adalah gunung berapi kerucut tertinggi di Jawa Barat, dengan ketinggian mencapai 3.078 mdpl. Berdiri di atap tertinggi tanah Pasundan yang terkenal dengan jalurnya yang menguras fisik, pemuda yang dulunya hanya bermodal penasaran di usia 20 tahun kini telah bertransformasi menjadi seorang pendaki berpengalaman yang matang.
Kisah perjalanan putra Lampung Utara ini adalah suatu refleksi mendalam bagi kita semua. Ia mengajarkan bahwa mendaki gunung bukan tentang seberapa banyak puncak yang berhasil kita injak, atau seberapa gagah kita menaklukkan alam. Ini adalah cerita tentang bagaimana kita menjaga kelestarian alam yang asri, menghormati tanah yang kita pijak, dan yang terpenting: menaklukkan ego serta keterbatasan diri kita sendiri. (Red)













