Lampung Selatan- Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda memukul perekonomian pesisir Lampung Selatan. Erupsi yang terus berlangsung hingga Rabu (9/9/2026) tidak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga melumpuhkan sektor perikanan tangkap dan memicu lonjakan harga komoditas laut di pasar lokal.
Fenomena hujan abu vulkanik serta paparan material batu kecil di perairan Selat Sunda memperkeruh kondisi perairan. Akibatnya, hasil tangkapan nelayan merosot tajam hingga 70 persen dibandingkan hari-hari normal.
Meski bahaya mengintai, sebagian nelayan di Dermaga Bom, Kalianda, Lampung Selatan, memilih tetap melaut demi menopang kebutuhan ekonomi keluarga yang kian mendesak.
Tatang, salah seorang nelayan tradisional di Dermaga Bom, menuturkan kecemasannya saat berlayar di tengah ancaman erupsi.
“Kondisi di tengah laut sangat mengkhawatirkan. Namun, demi memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari, kami tidak punya pilihan lain selain tetap melaut,” ujar Tatang.
Dampak buruk paling parah dirasakan oleh para nelayan berskala kecil yang mengandalkan kapal klotok dan ketiting. Air laut yang terkontaminasi material vulkanik membuat ikan menjauh dari kawasan tangkapan dangkal. Dalam dua hari terakhir, tak sedikit nelayan yang pulang tanpa membawa hasil tangkapan sama sekali.
Pasokan Langka, Harga Ikan Melonjak hingga 50%
Lumpuhnya aktivitas penangkapan ikan di Selat Sunda langsung berdampak domino pada rantai pasok dan stabilitas harga di pasar tradisional wilayah Lampung Selatan. Pasokan ikan dari nelayan lokal anjlok drastis sejak akhir pekan lalu.
Kondisi kelangkaan ini memicu lonjakan harga jual ikan segar di tingkat pedagang eceran hingga mencapai 30 hingga 50 persen.
Yana, seorang pedagang ikan lokal, mengungkapkan bahwa kelangkaan barang sudah terjadi sejak Jumat lalu. Banyak lapak pedagang di pasar tradisional kini tampak kosong tanpa pasokan dagangan.
“Sejak hari Jumat kami kesulitan mendapatkan barang pasokan dari nelayan. Banyak pedagang terpaksa menaikkan harga jual karena barangnya memang sangat langka. Bahkan, sebagian dari kami harus mencari pasokan hingga ke luar wilayah Lampung Selatan agar tetap bisa berdagang,” kata Yana.
Kenaikan harga yang siginifikan ini memicu keluhan dari masyarakat. Tak sedikit konsumen yang terkejut saat mengetahui tingginya harga ikan segar di pasaran, hingga akhirnya memilih untuk membatalkan pembelian.
Seorang pedagang ikan lainnya, Johan, menyebutkan bahwa situasi ini membuat omzet pedagang kian terpuruk. Daya beli masyarakat merosot tajam seiring meroketnya harga jual.
“Banyak pembeli yang protes dan terkejut melihat kenaikan harga yang begitu drastis. Tidak jarang mereka batal membeli begitu tahu harganya naik mahal,” ungkap Johan.
Guna bertahan hidup di tengah krisis pasokan ini, sejumlah pedagang memilih berhenti berjualan sementara waktu. Merek beralih profesi menjadi buruh harian lepas sambil menunggu kondisi perairan Selat Sunda aman dan aktivitas penangkapan ikan kembali normal. (Wawan/ Red)













