Lampung Selatan- Aktivitas vulkanik Gunungapi Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengalami peningkatan signifikan. Berdasarkan pemantauan terbaru hingga Sabtu (5/9/2026), gunung api tipe A tersebut tercatat mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh dan visual semburan lava pijar menyerupai lava fountain (lava air mancur).
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengonfirmasi bahwa fenomena erupsi ini telah berlangsung sejak Sabtu dini hari. Suara dentuman serta getaran akibat aktivitas tersebut dilaporkan turut dirasakan oleh warga di sejumlah wilayah pesisir Lampung, Banten, hingga Jawa Barat.
Setelah fase jeda erupsi pasca-konstruksi tubuh gunung pada akhir 2023, Anak Krakatau kembali aktif sejak 2 Juli 2026 dan menempatkan statusnya pada Level III (Siaga). Seri erupsi berkarakteristik Strombolian konsisten terjadi hingga memuncak pada Sabtu (5/9/2026) pukul 23.07 Wib.
Petugas di Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) Pasauran, Kabupaten Serang, melaporkan bahwa erupsi menerus masih teramati hingga pukul 04.40 Wib. Meski tinggi kolom abu sulit terdeteksi secara visual akibat kondisi malam hari, pijar merah terang dari aliran lava air mancur terlihat jelas dari jarak pantau.
PVMBG menjelaskan bahwa durasi erupsi menerus selama beberapa jam yang berasosiasi dengan lava fountain merupakan karakteristik umum pada fase erupsi gunung api aktif.
Merespons kekhawatiran publik terkait potensi bencana berulang seperti peristiwa 22 Desember 2018 lalu, evaluasi teknis PVMBG menunjukkan indikasi yang relatif aman dari ancaman gelombang tinggi.
Pertumbuhan morfologi tubuh Gunung Anak Krakatau pasca-kolaps 2018 saat ini dinilai masih relatif kecil. Hal ini membuat potensi keruntuhan skala besar yang berisiko memicu tsunami tergolong rendah. Namun demikian, pemantauan perubahan struktur dan morfologi gunung tetap dilakukan secara intensif selama 24 jam dari Pos PGA Kalianda (Lampung Selatan) dan Pasauran (Serang).
Potensi bahaya utama saat ini berfokus pada area sektoral sekitar kawah, berupa aliran lava pijar, lontaran material batuan pijar, dan awan panas dan hujan abu lebat.
Menyikapi status Level III (Siaga) yang masih berlaku, Badan Geologi mengeluarkan sejumlah rekomendasi resmi bagi masyarakat, wisatawan, dan pemangku kepentingan:
- Sterilisasi Radius Zona Bahaya: Masyarakat, pengunjung, maupun pendaki dilarang keras mendekati atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
- Kewaspadaan Bahaya Sekunder: Warga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lontaran batu pijar, aliran lava, serta paparan hujan abu lebat.
- Aktivitas Pesisir Tetap Kondusif: Masyarakat di kawasan pesisir Banten dan Lampung diimbau untuk tetap tenang, beraktivitas seperti biasa, dan tidak mudah terpengaruh oleh isu hoaks. Selalu ikuti instruksi resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
- Kanal Informasi Resmi: Pemantauan perkembangan aktivitas dapat diakses melalui portal resmi Magma Indonesia (esdm.go.id), situs web Badan Geologi, atau mengontak langsung Pos PGA Krakatau di Pasauran (0254-651449 / 085846324506) dan PVMBG Bandung (022-7272606). (Wawan/ Red)











