Jakarta- Di rumah bersahaja di Dukuh Mangunrejo, Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh, Grobogan, kenangan tentang masa-masa sulit itu masih terekam jelas. Di dusun yang kerap melanda krisis air bersih saat musim kemarau tersebut, seorang bocah laki-laki saban hari harus memikul dua ember air dari sumur Desa menuju rumahnya. Jaraknya tak dekat, hampir satu kilometer.
Bocah itu adalah Sudaryono. Anak semata wayang dari pasangan Yahyo dan Suwarni sepasang petani paruh waktu yang tak memiliki sawah sendiri. Setiap musim tanam usai, sang ayah bertaruh nasib menjadi buruh bangunan demi menyambung hidup. Namun, dari garis kemiskinan itulah lahir sebuah tekad baja yang kelak membawanya melampaui batas ketidakmungkinan.
Kini, bocah pembawa jerami itu dikenal masyarakat luas sebagai Dr. Sudaryono Eng., M.M., MBA. Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia sekaligus penerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Pratama. Perjalanan hidupnya yang inspiratif kerap dijadikan teladan bagi anak-anak muda di kampung halamannya tentang bagaimana pendidikan dan kerja keras mampu memutus mata rantai kemiskinan.
Sejak sekolah dasar, pria yang akrab disapa “Mas Dar” ini sudah menunjukkan bakat akademis yang menonjol. Di sekolah, ia acap kali duduk di bangku paling belakang dan terkesan santai. Namun, setiap pertanyaan sulit dari guru mampu dijawabnya dengan presisi.
Rahasia kecerdasannya sederhana tetapi menuntut disiplin tinggi: ia selalu belajar selepas Subuh. Sebelum guru menerangkan materi di kelas, Sudaryono kecil sudah lebih dulu menguasainya. Bagi dia, jam pelajaran di sekolah hanyalah bentuk pengulangan.
Ijazah SD dengan nilai memuaskan mengantarkannya ke SMPN 2 Toroh. Kendati kerap menerima hukuman push-up akibat terlambat sekolah dampak dari kebiasaan belajar maratonnya usai Subuh bakat besar Sudaryono tak tertutupi. Tahun 2000, ia lulus sebagai wisudawan terbaik.
Pintu perubahan makin terbuka lebar saat ia lolos seleksi ketat Beasiswa SMA Taruna Nusantara Magelang. Dari 65 calon peserta asal Grobogan, hanya empat orang yang berhasil lolos, dan Sudaryono adalah salah satunya.
“Waktu awal masuk SMA Taruna Nusantara, Ayah memberi sangu Rp500 ribu. Tapi saya kembalikan Rp300 ribu. Saya bilang, ‘Yang Rp300 ribu buat Bapak saja untuk beli pupuk.’ Ayah menangis mengingat itu,” kenang Mas Dar.
Gemblengan fisik, mental, serta rasa persaudaraan yang kuat di sekolah berasrama tersebut membentuk karakter kepemimpinannya. Menghapus rasa rendah diri sebagai anak dusun termiskin di antara anak-anak pejabat dan Jenderal, Sudaryono membuktikan kualitasnya dengan lulus sebagai salah satu alumni terbaik.
Lulus dari SMA Taruna Nusantara, langkah akademisnya kian melesat ke kancah Internasional. Sudaryono memenangkan beasiswa prestisius untuk menempuh pendidikan di National Defense Academy of Japan (2004–2009). Di Negeri Sakura, visi global serta etos kerja berbasis efisiensi dan teknologi tinggi mulai terbentuk.
Tak berhenti di situ, haus akan ilmu membawanya menyelesaikan pendidikan S2 Magister Manajemen di Swiss German University, hingga akhirnya meraih gelar Doktor dari IPB University dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4.0.
Prinsip yang ditekankan oleh Ayahnya terbukti ampuh: hanya melalui jalan pendidikan, nasib sebuah keluarga dapat diubah.
Karier profesionalnya diawali sebagai Corporate Secretary di Nusantara Energy (2014) hingga dipercaya memimpin Garuda TV sebagai CEO pada 2018. Di tangan dinginnya, viewership rank Garuda TV melonjak drastis dari urutan 33 ke peringkat 17. Lewat program Garuda TV Education, ia memfasilitasi bantuan pendidikan untuk lebih dari 304 sekolah di pelosok Nusantara.
Pengalaman hidup sebagai rakyat kecil membuat nuraninya tak pernah lepas dari isu-isu kerakyatan. Lewat berbagai organisasi seperti APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia), PAPERA, HKTI, dan Tani Merdeka Indonesia, Mas Dar menginisiasi pelbagai program pro-rakyat:
- Gerakan Warung Juang: Menggulirkan bantuan modal usaha tanpa bunga dan tanpa riba yang telah membantu lebih dari 36.000 pedagang pasar dan UMKM di Indonesia terbebas dari jerat rentenir.
- Program Becak Listrik: Mendistribusikan lebih dari 500 unit becak listrik ramah lingkungan di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat guna meringankan beban fisik para penarik becak veteran.
Karier politiknya pun terbilang moncer. Dipercaya menjadi asisten pribadi Prabowo Subianto sejak 2010, ia kemudian menjabat sebagai Wasekjen Partai Gerindra, hingga menduduki posisi Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah di usia 38 tahun.
Meski kini telah menduduki kursi pejabat negara sebagai Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono tak pernah lupa dari mana ia berasal. Dalam berbagai kunjungan kerjanya ke pelosok desa di Jawa Tengah, tak jarang ia memilih menginap di rumah-rumah warga bersahaja.
Bagi Mas Dar, blusukan bukan sekadar rutinitas politik, melainkan cara untuk terus merawat rasa empati dan mendengarkan jeritan masyarakat bawah secara langsung.
“Saya pernah ada di posisi mereka. Saya tahu rasanya menjadi orang miskin yang hampir tidak punya harapan. Tugas kita hari ini adalah memastikan anak-anak petani dan buruh di pelosok desa tahu, bahwa mereka juga berhak memiliki masa depan yang gemilang,” pungkasnya. (Situs resmi Sudatyono)













