Blog  

SATIRE KADIPATEN “Peta, Kursi, Dan Tembok Tak Kasatmata”

Bagian 1.

Konon, di suatu Negeri bernama Kadipaten Tirta Madya, ada satu kantor yang dianggap sebagai otaknya Pemerintahan. Namanya Balairung Perencanaan. Semua mimpi tentang masa depan kadipaten lahir dari sana. Jalan yang akan dibangun, jembatan yang akan diperbaiki, sekolah yang akan diperluas, bahkan letak pohon peneduh di alun-alun pun harus melewati kantor itu.

Beberapa bulan sebelumnya, seorang pejabat baru ditunjuk memimpin balairung itu.

Namanya Raden Ayu Candrakirana.

Beliau masih baru. Belum genap setahun menjabat. Semangatnya besar, penampilannya selalu rapi, tutur katanya tenang. Banyak yang berharap muncul warna baru dalam Pemerintahan.

Sayangnya, warna yang paling cepat terlihat justru warna jarak.

Setiap hari Senin, seluruh kepala lembaga menghadiri rapat koordinasi.

Meja rapat dibuat berbentuk oval agar setiap orang bisa saling memandang.

Tetapi ada pemandangan yang selalu sama.

Di ujung ruangan, agak menjauh dari meja utama, berdiri kursi kayu dengan bantalan hijau.

Bukan kursi paling besar.

Bukan pula paling mewah.

Namun letaknya berbeda.

Sedikit menjauh dari pejabat lain.

Ketika semua orang duduk berdekatan, Raden Ayu Candrakirana memilih kursi itu.

Seorang pejabat baru bertanya lirih kepada pegawai senior.

“Kenapa beliau duduk di sana?”

Pegawai senior mengangkat bahu.

“Mungkin supaya lebih mudah melihat semua orang.”

Pejabat baru mengangguk.

“Lalu kenapa tidak duduk bersama?”

Pegawai senior tersenyum tipis.

“Mungkin lebih sulit melihat orang kalau terlalu dekat.”

Jawaban itu terdengar aneh.

Tetapi lama-kelamaan semua orang terbiasa.

Rapat demi rapat berlangsung.

Kepala Lembaga Pertanian menyampaikan kebutuhan irigasi.

Kepala Lembaga Perdagangan berbicara tentang pasar rakyat.

Kepala Lembaga Kesehatan meminta sinkronisasi pembangunan puskesmas.

Semua berdiskusi.

Sementara Candrakirana lebih banyak mendengar.

Sesekali mencatat.

Sesekali mengangguk.

Lalu berkata,

“Nanti kita pelajari.”

Kalimat itu begitu sering diucapkan hingga seorang staf diam-diam menghitungnya.

Dalam satu rapat, kalimat “nanti kita pelajari” muncul sebelas kali.

Keputusannya?

Belum ada.

Seorang pegawai berbisik,

“Kalau semua dipelajari terus, kapan lulusnya?”

Di luar rapat, suasana justru lebih hidup.

Para pejabat biasa berkumpul di pendapa sambil minum kopi.

Di sanalah banyak persoalan selesai.

Tanpa mikrofon.

Tanpa layar presentasi.

Tanpa istilah-istilah rumit.

Namun Candrakirana tidak pernah ikut.

Begitu rapat selesai, beliau berjalan menuju ruang kerja.

Pintu ditutup.

Tirai dirapatkan.

Seolah dunia di luar cukup dilihat melalui kaca jendela.

Pegawai kebersihan pernah bercanda,

“Ruangan itu bersih sekali.”

“Tentu.”

“Soalnya tamunya sedikit.”

Yang paling penasaran adalah para juru kabar.

Mereka tidak mencari sensasi.

Mereka hanya ingin mengetahui arah pembangunan.

Namun setiap kali datang, jawabannya hampir selalu sama.

“Beliau sedang menyusun bahan.”

Hari berikutnya.

“Beliau sedang menelaah.”

Lusa.

“Beliau sedang fokus.”

Seorang wartawan senior tertawa kecil.

“Hebat juga.”

“Apa?”

“Orang yang paling sering kami temui di kantor itu bukan pejabatnya.”

“Lalu?”

“Satpam.”

Satpam yang mendengar hanya ikut tersenyum.

“Akhir-akhir ini saya lebih sering diwawancarai daripada pimpinan.”

Semua tertawa.

Bahkan tukang kebun yang sedang memangkas bunga ikut mengangguk.

“Kalau begini terus, nanti saya juga diminta menjelaskan arah pembangunan.”

 Suatu sore, Adipati Tirta Madya berjalan mengelilingi kompleks Pemerintahan.

Beliau melihat para pegawai bercengkerama.

Melihat kepala lembaga saling bertukar gagasan.

Lalu pandangannya berhenti di jendela Balairung Perencanaan.

Di balik kaca, Candrakirana duduk sendiri.

Dikelilingi peta.

Dikelilingi berkas.

Dikelilingi kesunyian.

Adipati bergumam,

“Perencana memang membutuhkan ketenangan.”

Beliau berhenti sejenak.

“Tetapi ketenangan berbeda dengan keterasingan.”

Malam itu, seorang pujangga istana menulis sebuah kalimat di buku hariannya.

“Peta dibuat untuk mendekatkan tujuan. Jangan sampai orang yang membuat peta justru menjauh dari orang-orang yang hendak berjalan di atasnya.”

Tak ada yang membaca tulisan itu.

Selain angin yang masuk melalui jendela.

Dan mungkin, tanpa disadari, juga waktu.

Sebab waktu selalu memiliki cara yang unik untuk menguji seorang pemimpin.

Bukan melalui pidato.

Bukan melalui gelar.

Melainkan melalui kesediaannya mendengar.

Sementara itu, di Balairung Perencanaan, kursi yang selalu berada sedikit menjauh dari meja utama masih berdiri di tempatnya.

Diam.

Seperti pemiliknya.

Dan tanpa disadari siapa pun, bukan lagi peta pembangunan yang menjadi bahan pembicaraan para pejabat.

Melainkan satu pertanyaan sederhana.

“Mengapa seseorang yang bertugas menyatukan rencana justru memilih menjauh dari lingkaran?”

 

Bersambung…

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!