Penulis : Evicko Guantara
Studio2news- Pernahkah Anda menepi sejenak di pinggir jalan raya Kabupaten atau kota belakangan ini, lalu benar-benar melihat apa yang sedang terjadi?
Pemandangan kita hari ini bukan lagi dinamika kota yang produktif, melainkan barisan kendaraan yang mengular tanpa ujung. Truk-truk muatan hasil bumi, logistik, angkutan umum yang kusam, hingga sepeda motor para pekerja harian, semuanya mati mesin, teronggok pasrah di bahu jalan menuju SPBU. Mereka tidak sedang mogok karena rusak. Mereka sedang mengantre sesuatu yang kini terasa seperti barang mewah, Bahan Bakar Minyak (BBM).
Ironi ini begitu menyayat hati. Kita dipaksa menerima kenyataan pahit bahwa harga beli BBM merangkak naik. Sebagai warga Negara yang patuh, masyarakat mencoba berlapang dada, mengencangkan ikat pinggang, dan menerima keputusan itu. Namun, kepatuhan itu dibalas dengan tamparan keras harganya naik, tetapi barangnya sulit untuk didapat.
Melihat antrean panjang itu adalah melihat suatu potret keputusasaan yang nyata. Di dalam kabin truk yang panas atau di atas motor di bawah terik matahari, ada sopir-sopir yang menghitung sisa uang di dompetnya. Setiap jam yang terbuang dalam antrean adalah waktu kerja yang hilang, adalah rupiah yang menguap, dan adalah kepastian makan untuk keluarga di rumah yang kian buram.
Kenaikan BBM bukanlah masalah angka di papan pengumuman SPBU semata, ini adalah hulu dari gelombang penderitaan yang lebih besar. Ketika roda transportasi tersendat, urat nadi perekonomian ikut tersumbat. Biaya angkut yang membengkak memaksa harga bahan pokok di pasar meroket. Beras, minyak, sayur-mayur semuanya ikut naik kelas menjadi barang yang sulit dijangkau, di tengah situasi mencekik ini, orang tua juga harus berhadapan dengan musim Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB). Pendidikan yang sejatinya adalah tiket untuk memutus rantai kemiskinan, kini menjelma menjadi gunung tinggi yang nyaris mustahil didaki dengan kondisi kantong yang kering kerontang.
Ketika badai ekonomi menerpa, perhatian sering kali tertuju pada kelompok masyarakat miskin yang mendapat bantuan sosial. Namun, mari kita tengok sejenak kelompok yang sering terlupakan, masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah.
Mereka adalah kelompok yang berada di zona abu-abu yang menyakitkan. Mereka tidak cukup miskin untuk terdata sebagai penerima bantuan sosial (bansos), namun mereka jauh dari kata kaya untuk bisa bertahan dari gempuran inflasi ini. Mereka adalah para guru honorer, karyawan swasta bergaji pas-pasan, pedagang kaki lima, dan buruh pabrik, serta pekerja serabutan.
“Bagi kelas menengah, hari ini bukan lagi tentang bagaimana cara menabung atau berinvestasi, melainkan tentang bagaimana cara bertahan hidup agar tidak jatuh miskin besok pagi.”
Bagaimana cara seorang ayah menjelaskan kepada anaknya bahwa uang saku sekolahnya harus dipotong karena harga bensin motor untuk mengantarnya naik dua kali lipat? Bagaimana seorang ibu mengatur uang belanja ketika harga cabai dan beras melompat tinggi, sementara gaji suaminya stagnan? Mereka berjuang sendirian, meredam tangis di ruang tamu yang sepi, berpura-pura semua baik-baik saja di hadapan anak-anak mereka, sembari memutar otak hingga mati rasa. Pernahkah kita diwaktu kecil melihat sosok Ayah yang duduk melamun diteras sendiri, yacchhh…!!! isi lamunan dikepala yang sama tapi ceritanya berbeda.
Melihat potret kemanusiaan, ini bukan sekadar simulasi ekonomi atau dinamika pasar makro tapi adalah jeritan nyata dari perut-perut yang lapar, dari mimpi-mimpi anak muda yang ingin sukses, serta dari para kepala keluarga yang lelah mengantre berjam-jam hanya untuk bisa mendapatkan BBM, hidup yang tak lagi masuk akal.
Masyarakat tidak meminta kemewahan. Mereka hanya meminta keadilan yang paling mendasar: jika memang harus membayar lebih mahal, setidaknya berikan hak mereka tanpa harus mengemis dalam antrean yang merendahkan martabat kemanusiaan.
Sebab, di ujung antrean panjang kendaraan mengular itu, yang sedang dipertaruhkan bukan lagi sekadar isi tangki BBM, melainkan napas kehidupan keluarga. Dan saat ini, napas itu sedang terengah-engah, menanti suatu keajaiban bernama yakni “empati dari para pemangku kebijakan”.













