Lampung Utara – Di balik meja birokrasi yang kaku dan tanggung jawab besar mengawal dalam pengawasan demokrasi, selalu ada kisah tentang manusia biasa yang menolak tunduk pada gengsi. Di Lampung Utara, cerita itu datang dari sosok yang sehari-hari dikenal tegas memimpin lembaga pengawas pemilu, Putri Intan Sari Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Lampung Utara.
Ketika jam kerja usai dan atribut jabatan dilepaskan, ia melangkah ke ruang yang jauh berbeda. Tidak ada lagi setelan formal atau berkas-berkas edukasi Pemilu. Di sudut sederhana, dengan senyum ramah yang tulus, ia menyingsingkan lengan baju untuk meracik, menggoreng, dan menyajikan pempek langsung ke tangan para pembelinya.
Bagi sebagian orang, posisi sebagai Ketua Lembaga Negara di Tingkat Daerah adalah puncak prestise yang harus dijaga dengan sekat-sekat sosial. Namun bagi Putri, jabatan adalah amanah yang ada masanya, sementara Kemandirian Hidup Adalah Nilai Yang Abadi.
Aktivitas berjualan pempek ini bukan sekadar sampingan untuk mengisi waktu luang, melainkan wujud nyata dari dedikasi seorang ibu dan kepala keluarga yang tangguh. Tanpa canggung, ia turun langsung ke dapur, memastikan suhu minyak pas agar pempek matang sempurna, hingga menuangkan kuah cuko yang kental dan pedas khas buatannya ke mangkuk pelanggan.
“Jabatan itu titipan, sifatnya sementara. Tapi kerja keras mencari rezeki yang halal dengan keringat sendiri adalah kehormatan yang sesungguhnya. Tidak ada kata malu untuk mencari nafkah yang baik,” ujar Putri hangat saat menyajikan sepiring pempek hangat kepada pembeli yang datang.
Pemandangan seorang pejabat publik yang dengan telaten melayani pembeli layaknya pedagang kaki lima pada umumnya memicu rasa kagum dari warga sekitar. Banyak pelanggan yang awalnya terkejut saat mengetahui bahwa sosok ramah di balik meja kasir dan penggorengan adalah Ketua Bawaslu Lampung Utara. Namun, keterkejutan itu dengan cepat berubah menjadi rasa hormat yang mendalam.
Sikap Putri Intan Sari menjadi antitesis dari stereotip pejabat yang kerap diidentikkan dengan gaya hidup eksklusif dan feodal. Langkahnya merambah dunia usaha kuliner lokal ini mengirimkan pesan kuat kepada publik: bahwa integritas seorang pemimpin justru diuji dari bagaimana ia menjaga kesederhanaan dan kerendahan hatinya di luar jam dinas.
Keberaniannya menyingsingkan baju bukan hanya soal mengaduk adonan pempek, melainkan simbol dari kerelaan. Ia membuktikan bahwa profesionalisme di ruang lingkup Bawaslu tetap bisa berjalan selaras dengan ketulusan melayani di atas meja makan sederhana.
Di tengah keringat yang menetes di sela kesibukannya menggoreng pempek, Putri Intan Sari tidak hanya sedang menyajikan kuliner Nusantara. Ia sedang menulis narasi berharga tentang esensi seorang pemimpin sesungguhnya, bahwa kehormatan tidak lahir dari tinggi rendahnya kursi jabatan, melainkan dari ketulusan hati dan keberanian untuk tetap membumi.
Bagi kalian yang ingin santai dan mencoba Pempek ciri khas Palembang disini tempatnya Pempek 313 AK17 di Jalan Bougenville No 48, Kelapa Tujuh, Lampung Utara sebelum SMKN 1 Kotabumi. (Riski/ Red)













