LAMPUNG SELATAN, Studio2News – Operasi pencarian terhadap Zora Panasea Martauli Ompusunggu (19), mahasiswi yang dilaporkan hilang setelah diduga terjatuh dari KMP Batumandi di perairan Selat Sunda, resmi dihentikan pada hari ketujuh, Rabu (15/7/2026).
Keputusan penghentian operasi ini menjadi titik nadir bagi keluarga, terutama bagi sang ibu, Madesta Sijabat, yang selama sepekan terakhir tak henti-hentinya menolak untuk menyerah pada keadaan.
Selama tujuh hari penuh, Madesta Sijabat menjadi saksi bisu betapa luas dan dinginnya Selat Sunda. Ia memilih untuk terus berada di garda terdepan, menumpang Rigid Inflatable Boat (RIB) tim Basarnas, membelah gulungan ombak demi berada sedekat mungkin dengan titik koordinat hilangnya sang putri sejak Kamis (9/7/2026) dini hari lalu.
Raut wajah lelah yang terpancar dari Madesta seolah menggambarkan duka yang mendalam. Di atas kapal, tatapannya tidak pernah lepas dari hamparan samudera. Ada harapan yang terus ia genggam di tengah ketidakpastian; sebuah doa agar lautan mau mengembalikan buah hatinya. Namun, hingga hari terakhir operasi SAR, samudera tetap menyimpan rapat rahasianya.
Upaya pencarian selama satu pekan ini bukanlah perkara ringan. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, Polairud, TNI AL, hingga nelayan setempat telah mengerahkan daya upaya maksimal. Area penyisiran telah diperluas hingga radius 25 mil laut, mencakup perairan Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, hingga pesisir Kalianda.
Koordinator lapangan, Rezie, menyatakan bahwa seluruh unsur SAR telah dikembalikan ke kesatuan masing-masing sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) pencarian orang hilang.
“Operasi resmi kami hentikan hari ini karena durasi tujuh hari telah terpenuhi. Namun, kami tetap melakukan pemantauan pasif. Jika nantinya ada informasi atau temuan baru dari nelayan atau masyarakat yang melintas, tim akan segera melakukan tindak lanjut,” tegas Rezie.
Meski operasi secara resmi ditutup, pihak keluarga tidak memendam kekecewaan. Sebaliknya, mereka menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh personel yang telah mempertaruhkan keselamatan diri demi mencari keberadaan Zora.
Bagi keluarga, berakhirnya masa operasi SAR bukanlah akhir dari segalanya. Kini, Madesta Sijabat hanya bisa bersandar pada keikhlasan. Penantian yang selama tujuh hari dilakukan di tengah laut, kini berpindah menjadi penantian dalam doa di rumah. Harapan untuk melihat Zora kembali, kini diselimuti oleh kepasrahan mendalam, di mana mereka tetap menanti keajaiban kecil di tengah ketidakpastian takdir. (Wawan/Red).













