Dampak El Niño Krisis Air Bersih Terjadi Di Mesuji, BPBD Petakan Tiga Kabupaten Rawan Karhutla

Bandar Lampung –  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung mencatat krisis air bersih mulai melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Mesuji akibat dampak fenomena El Niño. Penurunan curah hujan yang drastis memicu kekeringan parah, bahkan menyebabkan kualitas air tanah di beberapa kawasan memburuk dan berubah warna menjadi kekuningan, sehingga tidak lagi layak dikonsumsi.

Merespons kedaruratan tersebut, BPBD Provinsi Lampung bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mesuji bergerak cepat dengan melakukan distibusi (dropping) air bersih secara berkala ke titik-titik pemukiman yang terdampak paling parah. Langkah taktis ini diambil guna memastikan kebutuhan dasar domestik masyarakat tetap terpenuhi di tengah situasi krisis.

Selain ancaman kekeringan dan krisis air bersih, musim kemarau ekstrem ini juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Lampung. Berdasarkan hasil pemetaan dan analisis kebencanaan, terdapat tiga kabupaten yang masuk dalam kategori paling rentan terhadap potensi karhutla.

Ketiga wilayah zona merah tersebut adalah Kabupaten Lampung Timur (Lamtim), Kabupaten Mesuji, dan Kabupaten Tulang Bawang. Kondisi topografi, keberadaan lahan gambut, serta hamparan vegetasi yang mengering di ketiga Daerah tersebut dinilai menjadi faktor utama tingginya indeks kerawanan kebakaran,”Kabupaten lainnya juga rawan Karhutla tapi yang rentan di tiga Kabupaten tersebut,”terangnya.

Analis Bencana BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat mengonfirmasi situasi tersebut dan mengimbau seluruh elemen masyarakat serta pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan,”Selain mengoptimalkan distribusi logistik air, Pemerintah Daerah di tiga Kabupaten rawan juga diminta memperketat pengawasan lapangan guna mencegah adanya aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar (slash-and-burn) yang dapat memicu kebakaran skala besar,”ujar Wahyu Hidayat saat dihubungi lalui ponselnya, Rabu 8 Juli 2026

Selain, krisis air bersih dan Karhutla, BPBD Provinsi telah berkoordinasi dengan lintas sector terkait kemarau saat ini seperti, Pertanian dan perikanan dalam rangka menjaga ketahanan pangan,”Kami selalu berkoordinasi dan bahkan telah melakukan rapat untuk membahas dampak kemarau saat ini, meski ada beberapa wilayah yang masih mengalami hujan local,”terangnya.

BPBD Provinsi Lampung menjelaskan penyebab utama kemarau ekstrem dan kekeringan di wilayah ini dipicu oleh fenomena perubahan iklim global El Niño. Dinamika cuaca ini menyebabkan curah hujan jauh di bawah normal dan memicu suhu panas yang sangat menyengat,  (Sandi Putra/ Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!