Gaduh Soal Begal, Hotman Paris Semprot Menteri HAM Natalius Pigai, Sujiwo Tejo Sebut “Tak Berkelas”

JAKARTA, studio2news – Pernyataan Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, yang mengimbau agar aparat tidak melakukan tembak di tempat terhadap pelaku begal, memicu reaksi keras dari berbagai kalangan. Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea dan budayawan senior Sujiwo Tejo secara terbuka melayangkan kritik pedas terhadap sang menteri.

“Gua Kesel Sama Lo, Mikir Lagi Apa Cocok Jadi Menteri!” Cetus Hotman.

Melalui unggahan di akun media sosial pribadinya, Hotman Paris secara blak-blakan mempertanyakan kapabilitas Natalius Pigai dalam memimpin Kementerian HAM. Dengan nada tinggi, Hotman meminta Pigai untuk berkaca diri.

“Sudah waktunya anda mikir lagi, apakah anda cocok menjadi menteri HAM. Halo Pak Pigai Menteri HAM, sudah waktunya anda mikir lagi apa anda cocok menjadi menteri HAM? Gua kesel sama lo, begitu banyak pelanggaran HAM di negeri ini satupun belum berhasil kau bela,” kata Hotman dengan nada kesal.

Hotman membandingkan kinerja sang menteri dengan program “Hotman 911” miliknya yang mengklaim telah membela ribuan korban pelanggaran HAM secara nyata.

Dalam video tersebut, Hotman juga memberikan pujian kepada Anggota DPR RI, Ahmad Sahroni, yang sebelumnya telah mengkritik kebijakan Pigai terkait penanganan begal.

“Sahroni, Sahroni anggota DPR mantap. Kritikan kamu terhadap menteri HAM benar,” ujar Hotman.

Menurut Hotman, tindakan begal jelas-jelas merenggut hak asasi para korbannya. Ia menilai, tindakan tegas terukur seperti menembak pelaku di tempat terkadang menjadi satu-satunya pilihan jika situasi di lapangan sudah tidak bisa dikendalikan.

“Begal di mana-mana, kau bilang melanggar HAM. Bayangkan kalau keluargamu dibegal, putrimu dibegal, kok malah begal ditembak kau bilang melanggar hak asasi? Hey, hati-hati loh kalau ngomong!” tegas Hotman.

Sebagai salah satu pendukung berat Presiden Prabowo Subianto, Hotman menyatakan komitmennya untuk menyukseskan pemerintahan saat ini, namun ia menolak keras argumen menteri yang dinilainya tidak masuk akal.

“Saya ini pendukung berat Prabowo, saya berusaha membantu Prabowo agar sukses, tapi bukan berarti saya membantu pendapat-pendapat anda yang konyol. Halo Menteri HAM, mikir ulang untuk jadi menteri dong. Mending jadi pengacara deh, siapa tahu bisa jadi asisten Hotman. Nanti kemungkinan besar dapat Lamborghini sebagai pengacara,” sindir Hotman di akhir videonya.

Tak hanya Hotman Paris, kritikan tajam dengan gaya yang berbeda juga datang dari budayawan Sujiwo Tejo. Melalui akun resmi miliknya, @President_jancukers, ia memberikan tanggapan menohok saat ditanya netizen mengenai kebijakan Menteri HAM terkait larangan tembak di tempat bagi begal.

Dengan gaya khasnya yang satiris, Sujiwo Tejo justru enggan mengomentari secara spesifik pernyataan sang menteri. Alasannya ia menganggap menteri tersebut tidak berada di level atau kelas yang semestinya bagi seorang pejabat negara.

Ia menekankan bahwa segala sesuatu di dunia ini memang terbagi ke dalam tingkatan atau kelas-kelas tertentu. Masyarakat, menurutnya, tidak boleh terbuai oleh ilusi demokrasi yang menganggap semua hal itu setara. Dalam video Sujiwo Tejo memberikan analogi sederhana, Tiket pesawat maupun kereta api memiliki tingkatan kelas yang berbeda (ekonomi, bisnis, eksekutif). Bahkan buah durian pun memiliki kelas dan kualitasnya masing-masing.

Bagi pria yang kerap disebut sebagai sosok seniman yang “ganas” oleh rekan-rekannya ini, membahas atau mengkritik kebijakan dari seseorang yang kualitas kepemimpinannya di bawah standar hanyalah sebuah kesia-siaan.

Di sisa usianya, ia memilih untuk lebih selektif dalam bersuara. Baginya, menghabiskan waktu untuk mengomentari seorang pemimpin yang tidak memiliki “kelas pemimpin” adalah tindakan yang benar-benar membuang waktu berharga dan hanya menambah dosa. (RED).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!