247 Anak Terpapar Radikalisme di 2026, Kelompok Ekstrem Manfaatkan AI dan Game Online

JAKARTA, studio2news – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mencatat data mencengangkan terkait ancaman radikalisme di era digital. Sepanjang tahun 2026, sebanyak 247 anak di Indonesia telah terpapar paham radikalisme dan kekerasan ekstrem.

Menyikapi fenomena ini, Densus 88 kini tengah menyusun strategi penguatan untuk mengantisipasi ancaman ekstremisme berbasis kekerasan dan terorisme yang terus berevolusi menyasar generasi muda.

Juru Bicara Densus 88 AT Polri, Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana, menjelaskan bahwa pesatnya perkembangan teknologi informasi telah mengubah pola penyebaran paham ekstremisme secara drastis. Menurutnya, kelompok teror kini tidak lagi hanya mengandalkan jaringan ideologis konvensional secara tatap muka.

“ Kelompok ekstrem memanfaatkan ruang digital untuk proses rekrutmen, grooming, propaganda, hingga normalisasi kekerasan kepada kelompok usia muda yang rentan,” ujar Mayndra dalam keterangannya, Rabu (20/5/2026).

Lebih lanjut, Mayndra memaparkan munculnya fenomena baru seperti non-coherent extremism dan nihilistic violent extremism. Paham-paham ini disebarkan dengan memanfaatkan media sosial, platform digital, hingga permainan daring sebagai medium untuk menyusupkan pengaruh kekerasan.

Dari total 247 anak yang terpapar sepanjang tahun 2026, adalah, 132 anak terpapar paham radikalisme dan 115 anak terpapar paham kekerasan. Saat ini, seluruh anak tersebut telah mendapatkan intervensi dan penanganan bersama antara Densus 88 AT Polri, jajaran Polda, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan terkait. Mayndra juga mengungkapkan adanya temuan mengkhawatirkan terkait keterlibatan anak-anak ini dalam ekosistem digital tertentu.

“Sebagian kasus teridentifikasi memiliki keterkaitan dengan komunitas digital seperti True Crime Community (TCC), yang dinilai berpotensi mendorong eskalasi menuju aksi kekerasan nyata,” ucapnya.

Dalam Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Densus 88, disoroti juga sejumlah tantangan mutakhir yang memanfaatkan teknologi canggih. Kelompok ekstremis diketahui mulai menggunakan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk melakukan radikalisasi otomatis memanfaatkan algoritma cerdas untuk menjaring target, Pencampuran berbagai ideologi ekstrem sesuai “selera” target dan mengemas unsur kekerasan ke dalam format permainan online demi menarik minat kelompok rentan, terutama perempuan dan anak-anak.

Menyikapi ancaman siber yang bergerak sangat cepat ini, Densus 88 berkomitmen untuk terus meningkatkan adaptasi teknologi.

“Densus 88 AT Polri akan terus memperkuat kapasitas intelijen teknologi dan intelijen manusia guna mengantisipasi dinamika ancaman di ruang siber,” tegas Mayndra.

Di sisi lain, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memberikan apresiasi tinggi terhadap kinerja Densus 88 AT Polri. Apresiasi ini diberikan atas keberhasilan Densus 88 dalam menjaga stabilitas keamanan nasional, salah satunya dengan mempertahankan rekor nihil aksi teror (zero terrorist attack) selama hampir tiga tahun terakhir. Keberhasilan ini tidak lepas dari optimalisasi kesiapsiagaan nasional melalui operasi kontinjensi Aman Nusa III.

“Capaian tersebut dinilai turut meningkatkan kepercayaan publik, menjaga stabilitas investasi, serta mendukung berbagai agenda strategis nasional maupun internasional,” pungkas Mayndra. (Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!