BANDAR LAMPUNG – Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Lampung bergerak cepat mematangkan persiapan sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) 2027. Langkah awal ini ditandai dengan koordinasi strategis bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Lampung guna mengadopsi tata kelola penyelenggaraan event olahraga berskala nasional.
Ketua Umum KONI Lampung, Taufik Hidayat, menegaskan komitmen penuhnya untuk mendukung totalitas kesiapan Bumi Ruwa Jurai. Ia optimistis Lampung tidak hanya akan sukses sebagai penyelenggara, tetapi juga mampu menembus jajaran elit prestasi.
“Kita targetkan Lampung masuk posisi lima besar pada Porwanas 2027. Semangat kita adalah sinergi untuk prestasi, termasuk memastikan suksesnya penyelenggaraan ajang nasional ini,” ujar Taufik saat menerima kunjungan jajaran pengurus PWI Lampung di Sekretariat KONI, Senin (18/5/2026).
Mengingat Lampung memiliki rekam jejak yang kuat di sejumlah cabang olahraga (cabor) unggulan seperti angkat besi, KONI meminta PWI segera menyetorkan data atlet dari 14 cabor yang akan dipertandingkan. Data ini krusial untuk memetakan potensi medali sejak dini.
Terkait infrastruktur, KONI membuka ruang kolaborasi mutakhir dengan berbagai pihak untuk pemenuhan venue pertandingan. “Kita bisa bekerja sama memanfaatkan fasilitas olahraga yang ada di kampus-kampus (perguruan tinggi) maupun fasilitas milik Pemerintah Kota Bandar Lampung,” lanjut Taufik.
Selain siap mendukung program pemusatan latihan daerah (Pelatda) bagi atlet jurnalis, Taufik juga mewanti-wanti pentingnya aspek regulasi keuangan. Ia menekankan bahwa pengelolaan anggaran dari persiapan hingga pelaksanaan event wajib mengedepankan prinsip transparansi.
“Hal krusial dalam pengelolaan anggaran adalah kita harus mengusung keterbukaan dan akuntabilitas,” tegasnya.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah gagasan taktis mulai diapungkan. Wakil Ketua Umum II KONI Lampung, Riagus Ria, mengusulkan Gajah sebagai maskot resmi Porwanas 2027. Pemilihan ikon ini dinilai sangat selaras dengan identitas khas Lampung sekaligus menjadi jembatan menuju persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXIII tahun 2032 mendatang.
Riagus juga mengusulkan agar segera dilakukan survei bersama untuk menentukan titik pengambilan sumber api Porwanas. “Bisa dari kawasan geothermal Suoh (Lampung Barat) atau Ulubelu (Tanggamus), yang sekalian bisa diproyeksikan untuk kebutuhan PON 2032,” ungkapnya.
Sementara itu, Waketum IV KONI Lampung, Krisna Putra, mengingatkan bahwa pemetaan potensi medali dan klusterisasi venue harus dikunci sejak awal. Ia menyarankan PWI Lampung untuk mengadopsi konsep Porwanas Bandung yang sukses memusatkan pertandingan di kawasan universitas.
“Kita perlu menganalisis venue yang bisa dijadikan pusat kegiatan Porwanas terpadu, misalnya dengan memaksimalkan fasilitas di UIN Raden Intan atau Universitas Lampung (Unila),” kata Krisna.
Ketua PWI Lampung, Wirahadikusumah, mengungkapkan bahwa momentum menjadi tuan rumah Porwanas 2027 memiliki nilai historis yang sangat mendalam. Lampung tercatat terakhir kali menjadi tuan rumah event akbar ini pada tahun 1993 silam.
“Saat itu, gelaran dibuka langsung oleh Presiden Soeharto. Tentu sekarang kami ingin mengulang kembali memori kesuksesan tersebut, sekaligus menyatukannya dengan sukses penyelenggaraan Hari Pers Nasional (HPN),” tutur Wira.
Wira menjelaskan, Porwanas 2027 direncanakan mempertandingkan 14 cabang olahraga. PWI Lampung melalui Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) kini mulai menjaring atlet potensial melalui tahap seleksi, sekaligus berkoordinasi intensif dengan KONI terkait perangkat pertandingan hingga teknis pelaksanaan.
Pada edisi sebelumnya, kontingen jurnalis Lampung memiliki modal kuat dengan raihan medali emas dari cabor bridge, catur, dan futsal. “Ada juga cabor baru yang akan dipertandingkan yaitu mini soccer, dan saat ini kami sedang mengintensifkan seleksi atletnya,” tambah Wira.
Tak sekadar mengejar prestasi di arena olahraga, Porwanas 2027 juga akan mengintegrasikan kompetisi jurnalistik. PWI akan menggelar lomba karya tulis jurnalis dan fotografi yang mengeksplorasi destinasi wisata unggulan serta kawasan bersejarah di Lampung. “Ini adalah momentum emas untuk mempromosikan potensi pariwisata Lampung ke tingkat nasional,” tegasnya.
Menutup pertemuan, Wakil Ketua PWI Lampung, Segan Petrus Simanjuntak, menambahkan bahwa PWI berkomitmen penuh mengadopsi sistem tata kelola manajemen dan penganggaran yang diterapkan KONI.
“Kami belajar banyak dari KONI untuk menyusun rancang bangun pelaksanaan yang ideal. Mulai dari standarisasi juri, wasit, kelayakan venue, hingga penyusunan dasar penganggaran yang akuntabel di APBD,” pungkas Segan. (Sandi/Red).













