Ancaman Banjir Pesisir (Rob) Akibat Fase Bulan Purnama dan Perigee di Berbagai Wilayah Indonesia

Jakarta- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Direktorat Meteorologi Maritim mengeluarkan peringatan dini komprehensif terkait potensi banjir pesisir (rob). Fenomena kenaikan air laut ini diprakirakan melanda sejumlah kawasan pesisir nusantara akibat dinamika astronomis yang signifikan.

Peningkatan ketinggian air laut maksimum ini dipicu oleh kombinasi dua fenomena benda langit, yakni Fase Bulan Purnama pada 26 Oktober 2026 serta Fase Perigee (jarak terdekat bulan dengan bumi) yang akan terjadi pada 29 Oktober 2026. Berdasarkan analisis data water level dan prediksi pasang surut, fenomena ini berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat di kawasan pesisir dalam beberapa hari ke depan.

BMKG merinci sejumlah wilayah pesisir di Indonesia yang masuk dalam daftar siaga potensi banjir rob beserta rentang waktunya:

  • Pesisir Sumatera Utara (Medan Belawan, Medan Labuhan, Medan Marelan): 23–31 Oktober 2026.
  • Pesisir Sumatera Barat (Kota Padang, Padang Pariaman, Pesisir Selatan, Agam, Pasaman Barat, dan Kepulauan Mentawai): 24–27 Oktober 2026.
  • Pesisir Lampung (Bandar Lampung, Tanggamus, Lampung Selatan, Pesawaran, Lampung Timur, dan Lampung Barat): 26–31 Oktober 2026.
  • Pesisir Banten & Tangerang (Perairan Utara Tangerang/Teluk Naga & Kosambi, Selat Sunda Barat Pandeglang/Labuan, Perairan Selatan Pandeglang/Cikeusik, serta Perairan Selatan Lebak/Bayah): 27–31 Oktober 2026.
  • Pesisir DKI Jakarta (Kamal Muara, Kapuk Muara, Pluit, Ancol, Kamal, Marunda, Cilincing, Tanjung Priok, Kalibaru, hingga Muara Angke dan Penjaringan): 25 Oktober – 1 November 2026.
  • Pesisir Jawa Barat:
    • Subang, Indramayu, Cirebon: 22–26 Oktober 2026.
    • Kabupaten Bekasi & Karawang: 25 Oktober – 1 November 2026.
    • Sukabumi, Garut, Cianjur, Tasikmalaya, dan Pangandaran: 25–31 Oktober 2026.
  • Pesisir Jawa Tengah (Kota Semarang, Demak, Pekalongan, Batang, Kendal, Jepara, Brebes, Tegal, dan Pemalang): Puncak potensi pada 22 Oktober 2026.
  • Pesisir Jawa Timur (Pelabuhan Surabaya, Surabaya Barat/Gresik/Lamongan/Tuban, serta Pesisir Timur Surabaya/Sidoarjo/Pasuruan/Probolinggo): 26–29 Oktober 2026.
  • Pesisir Bali (Wilayah selatan meliputi Gianyar, Badung, Denpasar, Tabanan, Klungkung, dan Jembrana): 25–31 Oktober 2026.
  • Pesisir Nusa Tenggara Barat (NTB) (Lembar, Sumbawa, dan Bima): 24 Oktober – 2 November 2026.
  • Pesisir Kalimantan:
    • Kalimantan Utara (Tarakan): 26–30 Oktober 2026.
    • Kalimantan Selatan (Barito Kuala, Banjar, Banjarmasin, Tanah Laut, Kotabaru, Tanah Bumbu): 26–31 Oktober 2026.
    • Kalimantan Tengah (Kumai, Pantai Lunci, Kuala Jelai): 22–23 Oktober 2026.
    • Sebagian kecil bantaran Sungai Kapuas (Kalimantan Barat): 30–31 Oktober 2026.
  • Pesisir Sulawesi Utara (Kepulauan Talaud, Kepulauan Sangihe, Bolaang Mongondow Utara, Bolaang Mongondow, Minahasa Selatan, Manado Tua, dan Manado): 26–30 Oktober 2026.
  • Pesisir Maluku (Ambon, Maluku Tengah, Seram Bagian Timur, Kepulauan Kai, Kepulauan Aru, dan Kepulauan Tanimbar): 26–31 Oktober 2026.

Secara umum, pasang maksimum air laut ini berisiko menghambat kelangsungan aktivitas harian masyarakat serta roda perekonomian di kawasan pesisir. Beberapa sektor esensial yang perlu mengantisipasi gangguan meliputi hambatan pada proses bongkar muat barang di area pelabuhan, terganggunya akses transportasi darat dan aktivitas harian warga di pemukiman pesisir, dan otensi kerugian pada produksi tambak garam serta sektor perikanan darat.

Menyikapi potensi bencana hidrometeorologi pesisir ini, BMKG mengimbau masyarakat di wilayah terdampak agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan, siaga, serta mengamankan barang berharga ke tempat yang lebih tinggi.

Masyarakat dan pemangku kepentingan terkait diimbau untuk terus memantau pembaruan data cuaca maritim resmi melalui kanal komunikasi BMKG. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!