LAMPUNG SELATAN Studio2news.com – Waktu terus berjalan, anak-anak tumbuh remaja, namun ada satu hal yang menolak berubah di Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan. Hancurnya Jalan Selamet Riyadi. Jalur yang seharusnya menjadi urat nadi penghubung ini, kini lebih pantas disebut sebagai arena rintangan maut yang menguji nyali dan kesabaran warganya bertahun-tahun lamanya. (5/5/2026).
Bukan lagi sekadar soal aspal yang mengelupas, kondisi ini adalah potret nyata pembiaran yang melumpuhkan aktivitas warga dan menebar ancaman di setiap putaran roda.
Memasuki kawasan Jalan Selamet Riyadi hari ini, pengendara akan disambut oleh pemandangan yang memprihatinkan. Permukaan jalan keriting bergelombang, dengan lubang-lubang menganga yang siap menjebak siapa saja.
Kondisi jalan yang hancur lebur ini memicu efek domino yang merugikan masyarakat luas: Kemacetan Kronis: Terjadi setiap pagi dan sore. Pengendara terpaksa bermanuver ekstrem, berebut lajur mencari sisa aspal yang masih bisa dilalui, ancaman meselamatan yakni resiko kecelakaan meningkat tajam, memaksa warga bertaruh nyawa hanya untuk melintas di daerahnya sendiri, kelumpuhan akses. engan Mobilitas ekonomi dan pendidikan tersendat akibat waktu tempuh yang membengkak.
Bukti paling ironis dari lambannya penanganan ini datang dari Polan, seorang pelajar setempat. Baginya, jalan rusak ini seakan menjadi saksi bisu pertumbuhannya.
“Sejak saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) sampai sekarang sudah masuk sekolah menengah, kondisi jalannya ya tetap rusak seperti ini. Mau berangkat sekolah selalu terhambat dan harus ekstra hati-hati,” ungkap Polan.
Warga setempat bukannya diam pasrah, Karena lelah menunggu janji perbaikan. mereka berinisiatif menambal “luka” jalan dengan batu dan tanah seadanya agar tak memakan korban.
Sayangnya, solusi plester luka ini tak pernah bertahan lama. Saat hujan turun, tambalan darurat itu tersapu air, mengubah jalanan kembali menjadi kubangan lumpur yang menjijikkan.
Pembiaran jalan yang rusak menahun ini akhirnya memantik reaksi keras dari parlemen. Anggota Komisi IV DPRD Lampung Selatan, Agus Sartono, menegaskan bahwa Jalan Selamet Riyadi bukanlah jalur tikus biasa yang bisa dianaktirikan.
“Jalan ini adalah akses vital yang menghubungkan Kabupaten Lampung Selatan dan Lampung Timur. Pemerintah Daerah tidak boleh tutup mata! Kami mendorong eksekutif segera mengalokasikan perbaikan nyata, bukan sekadar wacana,” tegas Agus.
Kini, warga Desa Sidorejo hanya bisa menatap nanar sisa-sisa aspal di kampung mereka, menanti kapan negara benar-benar hadir. Harapan mereka sederhana: kembalikan hak atas akses transportasi yang layak, sebelum “kubangan” abadi ini memakan korban jiwa. (Wawan/red)













