TULANG BAWANG BARAT Studio2news.com – Ada dua warna yang mendominasi halaman SMPN 2 Tulang Bawang Barat pada Minggu pagi (10/5/2026). Putih yang melambangkan kemurnian awal keberangkatan, dan hitam yang menandai ketangguhan suatu akhir. Di antara dua warna itu, terbentang 274 kisah remaja yang hari ini resmi dilepas untuk mengarungi samudera kehidupan.
Angkatan ke-44 ini menamai diri mereka SEAVORA 44—Sea of Victory and Aura. Suatu manifesto bahwa mereka bukan sekadar angka di buku induk sekolah, melainkan ombak yang siap mengukir karang.
Sesi foto perpisahan menjadi fragmen yang sangat emosional. Pada pukul 10.00 WIB, mereka berbaris rapi dengan seragam putih-biru. Namun, suasana berubah drastis saat mereka berganti kostum serba hitam dengan tangan disilang di dada.
“Putih itu adalah kalian tiga tahun lalu. Polos, datang dengan tangan yang kami tuntun,” ujar Plt. Kepala SMPN 2 Tubaba, Ibu Dewi Sartika, dengan suara yang sesekali bergetar.
Puncak emosi pecah tepat pukul 14.00 WIB. Unit Damkar Tubaba memasuki lapangan bukan untuk memadamkan api, melainkan untuk melaksanakan “Upacara Penyucian”. Saat sirine meraung dan air menyemprot ke angkasa, tawa dan tangis bercampur menjadi satu di bawah guyuran air.
Momen ini bukan sekadar hura-hura, Ini adalah simbol “Pembersihan Masa SMP”. Di tengah lapangan yang basah, para guru—termasuk Dewi Sartika—ikut berdiri di tengah hujan buatan itu,
“Kami melepas kalian bukan dengan air mata duka, tapi dengan tawa dan doa. Hidup itu harus berani basah, harus berani kotor untuk mencapai kemenangan,” ucap salah satu wali kelas sambil menyeka air di wajahnya.
Di balik ketangguhan atribut SEAVORA, terselip ruang maaf yang dalam. Dalam sambutannya, Ibu Dewi Sartika tak kuasa membendung air mata saat memohon maaf kepada para wali murid.
“Kami manusia biasa. Jika selama tiga tahun ini ada kata yang melukai atau didikan yang dirasa terlalu keras, mohon dimaafkan. Niat kami hanya satu: melihat anak-anak ini berdiri tegak di masa depan,” ungkapnya lirih.
Perwakilan wali murid pun membalas dengan haru, menitipkan doa agar ilmu yang diberikan menjadi amal jariyah bagi para guru yang mereka sebut sebagai “Tangan Dingin” di balik keberhasilan anak-anak mereka.
Sebelum gerbang sekolah benar-benar tertutup bagi mereka sebagai siswa, tiga pesan pamungkas dititipkan kepada Angkatan 44: Jadilah Hiu, Bukan Teri: Miliki prinsip dan jangan hanya mengikuti arus, Aura adalah Akhlak Kecantikan sejati berasal dari adab, bukan sekadar nilai di atas kertas, Pulanglah Jika Lelah: SMPN 2 Tubaba akan selalu menjadi dermaga bagi mereka untuk berlabuh saat badai kehidupan terlalu kencang, Saat matahari mulai condong ke barat di Bumi Ragem Sai Mangi Wawai, teriakan “SEAVORA!” menggema untuk terakhir kalinya.
Mereka datang sebagai buih, namun pulang sebagai ombak. Selamat berlayar, SEAVORA 44. Taklukkan samudera kalian, dan kembalilah sebagai pemenang.(Rodi/Red)













