Jakarta- Transformasi sumber daya manusia (SDM) Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) terus digenjot guna mewujudkan institusi yang profesional, modern, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Sebagai langkah strategis mendukung pengelolaan karier yang objektif, transparan, dan akuntabel, penyelenggaraan Assessment Center menjadi instrumen vital dalam pemetaan kompetensi personel.
Kendati demikian, praktik penyelenggaraan Assessment Center Polri selama ini kerap dihadapkan pada sejumlah kendala operasional, seperti keterbatasan waktu, tantangan jarak geografis, mobilitas asesor yang tinggi, hingga beban penugasan struktural yang diemban para asesor. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi efisiensi biaya, kecepatan pelayanan, serta fleksibilitas penilaian.
Menjawab tantangan tersebut, AKBP Dr. Basuki, melalui Proyek Perubahan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Tahun 2026, menghadirkan terobosan strategis berupa inovasi SMART-HAC (Smart Hybrid Assessment Center Polri). Inovasi ini dirancang untuk mentransformasi proses bisnis penyelenggaraan Assessment Center di lingkungan Polri secara komprehensif.
SMART-HAC merupakan sebuah sistem inovatif yang mengintegrasikan mekanisme penilaian kompetensi dengan teknologi komunikasi mutakhir. Melalui pendekatan ini, pelaksanaan assessment dapat disesuaikan dengan karakteristik metode dan kebutuhan organisasi, baik secara tatap muka langsung (onsite), jarak jauh secara daring (online), maupun kombinasi keduanya (hybrid).
“Melalui pendekatan ini, asesor yang berada di lokasi berbeda tetap dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan assessment tanpa harus selalu melakukan perjalanan dinas,” ujar AKBP Dr. Basuki dalam rancangan proyek perubahannya.
Ia menegaskan, SMART-HAC diarahkan untuk mendongkrak efisiensi waktu dan anggaran, menekan kebutuhan mobilitas asesor, serta memperluas fleksibilitas pelayanan penilaian kompetensi secara nasional.
Meskipun berbasis digital, SMART-HAC tetap menempatkan objektivitas, profesionalisme, integritas, dan kualitas hasil penilaian sebagai prinsip utama. Teknologi diposisikan bukan sebagai pengganti peran asesor, melainkan sebagai instrumen pendukung untuk memastikan efektivitas tugas-tugas penilaian.
Guna menjamin akuntabilitas operasionalnya, pengembangan SMART-HAC didukung oleh instrumen tata kelola yang ketat, meliputi penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) baku, penerapan Matriks Pemilihan Mode Assessment, instrumen pemeriksaan kesiapan (Readiness Assessment), manajemen risiko melalui Risk Register, dan penerapan standar penjaminan mutu (Quality Assurance).
Implementasi inovasi ini dijalankan secara terstruktur melalui tahapan Bimbingan Teknis (Bimtek), simulasi, pelaksanaan pilot project, serta monitoring dan evaluasi berkala. Rangkaian tahapan tersebut krusial untuk menguji kesiapan SDM, keandalan infrastruktur teknologi, kepatuhan prosedur, hingga kualitas akhir assessment sebelum diterapkan secara luas.
Keberhasilan implementasi SMART-HAC sangat bergantung pada sinergi dan kolaborasi erat lintas pemangku kepentingan. Dukungan utama datang dari jajaran pimpinan Bagpenkompeten, Kasubbagkompeten Bagbinkar Ro SDM Polda, para Asesor dan Asesi, serta dukungan teknis dari unsur Div TIK Polri dan Bid TIK Polda. Keterlibatan aktif para stakeholder ini menjadi fondasi kuat dalam membangun komitmen bersama dan menjamin keberlanjutan program.
Lebih dari sekadar modernisasi teknis, SMART-HAC diharapkan mampu memicu pergeseran kultur kerja di tubuh Polri menjadi lebih adaptif, kolaboratif, efisien, dan berbasis teknologi (data-driven). Efektivitas inovasi ini selanjutnya akan diukur melalu pendekatan perbandingan sebelum dan sesudah implementasi (before-after), dengan indikator utama mencakup efisiensi biaya, efektivitas waktu, optimalisasi mobilitas asesor, peningkatan kapasitas layanan, kualitas assessment, serta indeks kepuasan pemangku kepentingan.
Pada akhirnya, SMART-HAC Polri hadir bukan sekadar wujud digitalisasi kegiatan assessment, melainkan sebuah lompatan kultural dalam tata kelola SDM yang lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan sejalan dengan visi besar mewujudkan Polri yang Presisi. (Red)













