Bau Busuk Menjadi “Santapan” Harian Warga Melintasi Jalan Abrati Kotabumi Ilir

Bagi sebagian orang, pagi hari adalah waktu terbaik untuk menghirup udara segar sedalam-dalamnya. Namun, kemewahan itu telah lama dirampas dari kehidupan warga yang tinggal di sekitar Jalan Abrati, Kelurahan Kotabumi Ilir, Lampung Utara.

Alih-alih aroma embun atau seduhan kopi, hidung mereka dipaksa akrab dengan bau busuk yang menyengat sebuah “ Santapan” harian yang disajikan oleh gundukan sampah yang terus membubung tinggi di bahu jalan.

Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi aktivitas warga kini berubah fungsi menjadi Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar yang mengerikan. Kantong-kantong plastik hitam, sisa makanan yang membusuk, hingga popok bayi bekas meluber hingga memakan badan jalan. Lalat-lalat hijau berpesta pora, sementara para pengendara motor yang melintas kompak melakukan satu gerakan refleks memutar gas dalam-dalam dengan satu tangan menutupi hidung rapat-rapat.

Ironinya, gunungan sampah ini bukanlah fenomena alam, melainkan potret nyata dari runtuhnya kesadaran kolektif masyarakat. Menurut penuturan warga sekitar, pemandangan ini diperparah oleh ulah oknum-oknum tak bertanggung jawab yang kerap beraksi layaknya “hantu”.

“Kalau warga sekitar sini sebenarnya sudah sering saling mengingatkan. Tapi susahnya, banyak orang dari luar wilayah yang sengaja lewat sini saat subuh atau tengah malam, lalu melempar begitu saja kantong sampahnya dari atas motor,” keluh seorang warga dengan nada pasrah.

Kalimat “asal bersih di rumah sendiri, persetan dengan lingkungan orang lain” tampaknya menjadi ego yang terus dipelihara. Akibatnya, Jalan Abrati menampung dosa dari mereka yang enggan bertanggung jawab atas limbahnya sendiri.

Di sisi lain, kekecewaan warga kian memuncak saat melihat sikap Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat yang dinilai acuh tak acuh. Protes demi protes lewat media sosial hingga obrolan warung kopi seolah menguap begitu saja, kalah bersaing dengan aroma busuk di lapangan.

Warga merasa daerah mereka dianaktirikan. Jarangnya armada pengangkut sampah yang masuk ke jalur ini membuat volume sampah yang dibuang tidak sebanding dengan yang diangkut.

“Kami ini bayar pajak, tapi kenapa untuk urusan kebersihan lingkungan saja seperti harus mengemis? Dinas Lingkungan Hidup seperti menutup mata dan telinga,” cetus warga lainnya dengan raut wajah kesal.

Sikap cuek dari instansi terkait dan bebalnya sebagian masyarakat adalah kombinasi sempurna yang merusak wajah Kotabumi Ilir. Masalah sampah di Jalan Abrati tidak akan selesai jika DLH hanya datang membersihkan sekali dalam sebulan, lalu menghilang lagi.

Masyarakat membutuhkan solusi penyediaan bak kontainer sampah yang layak, jadwal pengangkutan yang disiplin, serta sanksi tegas atau denda bagi siapa saja yang tertangkap tangan membuang sampah sembarangan di sana.

Sampai kapan warga Kotabumi Ilir harus mengalah pada bau busuk? Jalan Abrati kini menjadi saksi bisu, sejauh mana sebuah kota peduli pada kesehatan warganya, atau justru membiarkannya terkubur dalam tumpukan abai yang melingkar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!