Polisi Disiagakan Kawal dan Jaga Kondusifitas Unras LSMB di Depan Kejati Lampung

Bandar Lampung- Unjuk rasa mewarnai Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung pada Kamis (27/8/2026). Ratusan massa yang tergabung dalam Lembaga Swadaya Masyarakat Bersatu (LSMB) bersama masyarakat Kabupaten Pesawaran mendatangi kejaksaan untuk mendesak pengusutan tuntas kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang diduga melibatkan Bupati Pesawaran berinisial Nanda Indira Bastian.

Fokus utama pengunjuk rasa menyasar pada pengawalan penegakan hukum atas dugaan TPPU, khususnya terkait indikasi penyelewengan dalam proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Kabupaten Pesawaran tahun anggaran 2022. Dengan membentangkan spanduk, poster, serta orator yang menyuarakan tuntutan dari atas mobil komando, massa meminta Kejati Lampung bergerak tegas dan transparan dalam menindaklanjuti laporan tersebut.

Massa aksi berkisar 200 orang sebelumnya berkumpul di area Jalan Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara, sebelum akhirnya bergerak secara konvoi menuju Kantor Kejati Lampung.

Untuk mengawal jalannya penyampaian aspirasi publik tersebut, Polresta Bandar Lampung mengoperasikan pengamanan ketat di sekitar lokasi kegiatan dengan jumlah personel sebanyak 107 personel  yang disiagakan di berbagai titik strategis, dimana skema pengamanan dengan melakukan pengawalan lalu lintas oleh Satuan Lalu Lintas dan Samapta sejak titik kumpul hingga pengamanan terbuka di depan Kantor Kejati Lampung. Anggota pengamanan lebih mengedepankan langkah persuasif dan humanis guna memastikan hak menyampaikan pendapat tetap terlindungi tanpa mengganggu ketertiban umum.

Kasi Humas Polresta Bandar Lampung, AKP Agustina Nilawati, menyatakan bahwa pengamanan difokuskan pada pemeliharaan kondusivitas wilayah dan kelancaran arus lalu lintas di sekitar area demonstrasi.

Aksi penyampaian aspirasi mengenai dugaan penyalahgunaan wewenang dan indikasi TPPU proyek SPAM Pesawaran tersebut berakhir secara tertib, dengan situasi di sekitar lokasi Kejati Lampung terpantau aman dan terkendali hingga massa membubarkan diri. (Sandi Putra/ Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!