Urgensi Pembentukan Karakter Anak Usia Dini, Akademisi Ingatkan Orang Tua Stop Membandingkan Anak

Lampung Utara – Paradigma pendidikan anak usia dini (PAUD) idealnya tidak sekadar berorientasi pada kemampuan calistung (membaca, menulis, dan berhitung). Fokus utama pendidikan pada fase krusial ini seharusnya diarahkan pada pembentukan karakter, kecerdasan emosional, kecakapan sosial, serta rasa percaya diri anak.

Hal tersebut ditegaskan oleh akademisi sekaligus praktisi pendidikan anak usia dini, Yolanda Mutiara Dosen Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) STAI Ibnu Rusyd Kotabumi sekaligus pendiri TK Yustisia Kotabumi ini menyoroti pentingnya penerapan pola asuh (parenting) yang tepat pada masa keemasan (golden age) pertumbuhan anak.

Menurut Yolanda, golden age adalah fase kritis saat perkembangan otak, pembentukan karakter, dan habituasi anak berkembang dengan sangat pesat. Oleh sebab itu, pendekatan pendidikan harus lebih menitikberatkan pada aspek kepribadian alih-alih tuntutan akademik.

Ia juga mengkritisi fenomena umum di mana orang tua kerap membandingkan capaian anak dengan anak lainnya.

“Setiap anak memiliki linimasa tumbuh kembang, minat, dan potensi yang unik. Praktik membanding-bandingkan anak justru memicu hilangnya rasa percaya diri, kecemasan tinggi, dan perasaan tidak dihargai pada diri anak,” jelas Yolanda dalam keterangan resminya, Minggu (19/7/2026).

Yolanda menegaskan bahwa fondasi utama pendidikan karakter bermula dari lingkungan keluarga. Lingkungan rumah yang kondusif—ditandai dengan kasih sayang, rasa aman, komunikasi dua arah, dan keteladanan orang tua—menjadi kunci keberhasilan tumbuh kembang anak.

Beberapa stimulasi sederhana namun berdampak besar yang dapat diterapkan orang tua di rumah antara lain:

• Literasi Dini: Membiasakan aktivitas membaca bersama untuk merangsang kognitif.

• Habituasi Nilai Sopan Santun: Menanamkan penggunaan “tiga kata kunci” (tolong, maaf, terima kasih).

• Pelatihan Kemandirian: Melatih tanggung jawab personal melalui hal kecil, seperti merapikan mainan sendiri.

• Apresiasi Proses: Memberikan penghargaan pada usaha dan proses belajar anak, bukan semata-mata pada hasil akhir.

Lebih lanjut, Yolanda mengingatkan agar orang tua tidak melakukan pemaksaan akademik (drilling calistung) sebelum anak berada pada fase kesiapan matang. Dunia anak usia dini adalah dunia bermain, yang dalam konteks edukasi berfungsi sebagai laboratorium sosial dan emosional mereka.

melalui aktivitas bermain yang terstruktur dan menyenangkan, anak secara natural belajar tentang:

1. Kemampuan berkomunikasi dan artikulasi ide.

2. Resolusi konflik dan penyelesaian masalah (problem solving).

3. Regulasi emosi dan kontrol diri.

4. Keterampilan kolaborasi serta kerja sama tim.

Pada akhir keterangannya, Yolanda menggarisbawahi dua pilar utama pendukung keberhasilan pendidikan anak:

• Konsistensi Pola Asuh Internal: Adanya keselarasan visi dan kekompakan antara ayah dan ibu dalam menerapkan aturan serta nilai-nilai di rumah.

• Kemitraan Strategis Eksternal: Sinergi dan komunikasi yang transparan antara orang tua dan guru di sekolah guna memantau perkembangan anak secara holistik.

“Kolaborasi yang kuat antara ekosistem keluarga dan lembaga sekolah merupakan fondasi utama untuk melahirkan generasi masa depan yang tidak hanya unggul secara intelek, namun juga memiliki integritas karakter yang kuat, mandiri, dan berakhlak mulia,” tutupnya. (Adi Susanto/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!