Mahakarya di Pusiban Agung, Menghidupkan Kembali Kejayaan Kikat Lampung, Dari Warisan Menjadi Kebangaan

LAMPUNG UTARA, Studio2,News — Malam berbalut nuansa keemasan dan keanggunan budaya tradisional menyelimuti Pusiban Agung, Kotabumi, Senin malam (7/9/2026).

Gedung megah tersebut menjadi saksi bisu sebuah tonggak sejarah penting dalam pelestarian warisan leluhur,     pameran dan peluncuran resmi dua varian penutup kepala adat terbaru, yakni Kikat Lilik Sepahit Lidah dan Kikat Lilik Puccak.

Acara akbar ini sukses menyedot perhatian publik dan tokoh-tokoh penting daerah. Hadir secara langsung dalam perhelatan tersebut Bupati Lampung Utara, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para tokoh adat, serta tokoh masyarakat setempat yang turut memberikan apresiasi tinggi terhadap upaya revitalisasi kikat, ikon busana tradisional kebanggaan masyarakat Sai Batin dan Pepadun.

Kemeriahan malam peluncuran langsung terasa sejak awal acara melalui digelarnya parade kikat. Sebanyak 25 model dan pemuda setempat tampil memukau di atas panggung, memperagakan sekaligus memperkenalkan ragam jenis kikat kepada khalayak luas. Parade ini bukan sekadar unjuk busana, melainkan sebuah edukasi visual yang hidup, memperlihatkan bagaimana sehelai kain penutup kepala dapat bertransformasi menjadi mahakarya seni yang sarat makna.

Haris, selaku Owner Nuwo Kikat sekaligus penggagas acara, mengungkapkan bahwa peluncuran Kikat Lilik Sepahit Lidah dan Kikat Lilik Puccak merupakan bentuk dedikasi nyata untuk menjaga agar warisan budaya tidak tenggelam di tengah arus modernisasi.

“Kikat Lampung atau yang kerap juga disebut kiket atau kikat lappung adalah mahkota penutup kepala tradisional khas Lampung yang secara turun-temurun dikenakan oleh kaum pria dalam masyarakat adat setempat. Kehadiran varian baru ini diharapkan semakin memperkaya khazanah busana adat sekaligus mendekatkan kembali generasi muda dengan identitas budaya mereka,” ujar Haris.

Lebih dari sekadar pelengkap busana, kikat menyimpan fungsi sosial dan makna filosofis yang sangat luhur. Dalam tatanan adat masyarakat Lampung, kikat secara rutin dikenakan pada berbagai momentum penting, mulai dari upacara adat sakral, prosesi pernikahan, pertunjukan tari tradisional, hingga acara-acara formal pemerintahan.

Setiap lipatan, simpul, dan hiasan pada kikat, terutama sentuhan motif kain tapis berbenang emas, memiliki bahasa simboliknya sendiri. Hiasan tersebut melambangkan kemegahan, kewibawaan, serta strata sosial pemakainya, baik dalam tradisi adat Saibatin maupun Pepadun.

Melalui pameran dan launching ini, kikat tidak lagi dipandang sekadar sebagai artefak masa lalu yang tersimpan di dalam lemari museum. Transformasinya kini membuktikan bahwa warisan leluhur mampu beradaptasi dan berdiri tegak sebagai kebanggaan masa kini, merajut masa depan identitas budaya Lampung agar tetap lestari di bumi pertiwi. (Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!