Setiap manusia memiliki garis takdirnya masing-masing, namun jalan hidup Imam Hanafi membuktikan bahwa ketulusan dalam mengabdi akan selalu menemukan jalannya untuk berdampak lebih luas. Jauh sebelum namanya dikenal sebagai nahkoda di Dinas Sosial Kabupaten Lampung Utara, Imam memulai langkah pengabdiannya dari tempat yang paling sunyi dari gegap gempita kekuasaan yakni seorang guru di sebuah ruang kelas.
Menjadi seorang guru bukanlah sekadar profesi baginya, melainkan sebuah ruang ibadah untuk membentuk karakter anak bangsa. Berdiri di depan kelas, memegang kapur tulis, dan melihat langsung denyut kehidupan para siswanya menempa jiwa kepemimpinannya. Dari dunia pendidikan, ia belajar tentang kesabaran, empati yang mendalam, serta pentingnya mendengarkan suara-suara yang sering kali terabaikan.
Pengalaman bertahun-tahun berinteraksi langsung dengan masyarakat bawah di dunia pendidikan membentuk fondasi karirnya. Ia sadar bahwa persoalan sosial di tengah masyarakat tidak akan pernah selesai jika hanya diselesaikan di atas meja kerja. Panggilan jiwa untuk berbuat lebih banyak bagi sesama akhirnya membawanya menapaki tangga birokrasi pemerintahan, hingga takdir mengantarkannya memegang amanah strategis sebagai Kepala Dinas Sosial Kabupaten Lampung Utara.
Di bawah kepemimpinannya, Dinas Sosial bukan lagi sekadar kantor administratif yang kaku, tetapi bertransformasi menjadi rumah perlindungan dan tumpuan harapan bagi warga yang membutuhkan. Salah satu fokus utama yang dikawalnya dengan ketat adalah penyaluran berbagai program bantuan sosial yang bersumber dari Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Imam Hanafi menyadari bahwa di balik angka-angka statistik penerima manfaat, terdapat keluarga-keluarga yang menggantungkan harapan hidupnya pada bantuan tersebut. Karena itu, ia menerapkan prinsip pengawalan ketat mulai dari proses verifikasi data di tingkat desa hingga distribusi ke tangan warga yang berhak.
“Bantuan sosial dari pusat adalah amanah negara untuk meringankan beban rakyat. Tidak boleh ada pemotongan, tidak boleh salah sasaran, dan harus sampai kepada mereka yang benar-benar membutuhkan tanpa terkecuali.”
Pendekatan turun langsung ke lapangan menjadi ciri khasnya. Ia kerap mendadak turun untuk memastikan bahwa beras bantuan, program sembako, hingga bantuan tunai diterima secara utuh oleh warga di pelosok-pelosok desa Lampung Utara.
Sisi paling humanis dari kepemimpinan Imam Hanafi terlihat jelas dalam penanganan masalah sosial yang kerap dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, Orang dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) atau Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Bagi Imam, mereka bukanlah aib yang harus disembunyikan, melainkan saudara-saudara kita yang sedang diuji dan berhak mendapatkan hak dasarnya sebagai manusia. Di bawah komandonya, Dinas Sosial Lampung Utara menggalakkan pendekatan “memanusiakan manusia”.
Ia menginisiasi penanganan yang lebih beradab, mulai dari evakuasi humanis bagi warga yang selama ini dipasung di rumah-rumah gubuk, proses pengobatan medis yang layak, hingga pendampingan psikososial. Tidak sedikit dari mereka yang dulunya hidup dalam rantai penderitaan, kini perlahan pulih, mendapatkan kembali martabat kemanusiaannya, dan bisa kembali berkumpul bersama keluarga tercinta.
Masa depan sebuah daerah sangat ditentukan oleh bagaimana cara mereka memperlakukan generasi mudanya, bahkan ketika anak-anak tersebut tersandung masalah hukum. Imam Hanafi menaruh perhatian besar terhadap perlindungan Anak Bermasalah dengan Hukum (ABH).
Ia memastikan bahwa anak-anak yang berhadapan dengan hukum tidak boleh kehilangan masa depan mereka begitu saja. Melalui tim pendamping sosial yang profesional, Dinas Sosial hadir memberikan advokasi psikologis, pendampingan selama proses hukum berjalan, hingga memastikan hak-hak anak tetap terpenuhi sesuai dengan undang-undang perlindungan anak.
Bagi Imam, setiap anak memiliki kesempatan kedua untuk memperbaiki diri. Negara, melalui Dinas Sosial, harus hadir sebagai orang tua pengganti yang merangkul mereka kembali ke jalan yang benar.
Mimpi memiliki tempat tinggal yang aman dan sehat kini bukan lagi angan-angan belaka bagi ratusan warga kurang mampu di Lampung Utara. Melalui sinkronisasi kebijakan dan lobi anggaran yang kuat ke pemerintah pusat, program Bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) berhasil dihadirkan ke Bumi Ragem Tunas Lampung.
Rumah-rumah berdinding bilik bambu yang nyaris roboh disulap menjadi tempat tinggal yang layak huni, sehat, dan kokoh. Setiap kali meninjau progres pembangunan rumah warga, senyum kebahagiaan dari para penerima manfaat menjadi motivasi tersendiri bagi Imam Hanafi untuk terus memperjuangkan alokasi anggaran pusat yang lebih besar bagi masyarakat Lampung Utara.
Puncak dari komitmen pelayanan publik yang transparan dan pro-rakyat ditegaskan oleh Imam Hanafi saat hadir dalam sesi siniar (podcast) di Studio2. Dalam bincang-bincang hangat tersebut, ia menyampaikan sebuah pesan tegas sekaligus angin segar bagi masyarakat Lampung Utara yang membutuhkan layanan kesehatan darurat.
Terkait program BPJS gratis, Imam memberikan instruksi dan kemudahan pelayanan yang langsung dirasakan oleh masyarakat.
“Bagi masyarakat yang ingin berobat tetapi terkendala biaya dan kepesertaan BPJS, silakan datang langsung ke Dinas Sosial. Bawa data KTP dan Kartu Keluarga (KK), hari itu juga langsung kita aktifkan! Dengan satu catatan penting: jangan melalui calo, datanglah langsung ke Dinas Sosial.”
Pernyataan ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi praktik percaloan yang selama ini kerap merugikan masyarakat kecil. Melalui langkah jemput bola dan pelayanan satu pintu yang cepat ini, Imam ingin memastikan bahwa tidak ada lagi warga Lampung Utara yang ditolak berobat di rumah sakit hanya karena persoalan administrasi.
Dari ruang kelas tempat ia mengajar dengan sabar di masa lalu, hingga kursi kepemimpinan Dinas Sosial hari ini, Imam Hanafi telah membuktikan bahwa jabatan adalah sarana seluas-luasnya untuk berbuat baik.
Perjalanan karirnya adalah kisah tentang ketulusan merawat asa, keberanian membenahi sistem, dan tangan hangat yang selalu siap merangkul mereka yang tersisih. Di tangan seorang Imam Hanafi, Dinas Sosial Kabupaten Lampung Utara bukan lagi sekadar instansi pemerintah, melainkan rumah nyata bagi tegaknya keadilan sosial dan kemanusiaan. (Red).













