15 Hari Terjebak Konflik, Gajah Liar di Suoh Kian Agresif, Rusak Fasilitas Umum hingga Makam

LAMPUNG BARAT, studio2news.com – Konflik antara manusia dan satwa liar di Kecamatan Suoh, Lampung Barat, memasuki fase kritis. Sebanyak 18 ekor gajah liar dilaporkan telah mengepung permukiman warga selama 15 hari terakhir tanpa berhasil digiring kembali ke habitatnya, Selasa (5/5/2026).

Hingga berita ini diturunkan, Kamis (7/5/2026), kawanan gajah tersebut terpantau masih bertahan di kawasan Danau Lebar, Pekon Sukamarga. Situasi semakin mencekam lantaran satwa bertubuh besar ini mulai berani melintasi jalan raya serta jembatan di area padat penduduk.

Pergerakan kawanan gajah ini tidak hanya menyasar lahan pertanian, tetapi juga mulai merambah infrastruktur vital warga. Beberapa poin kerugian akibat kawanan gajah liar diantaranya,  Kerusakan masif pada perkebunan singkong dan pisang milik warga, di  Pekon Gunung Ratu, kawanan gajah merusak pipa saluran air bersih yang merupakan sumber utama kebutuhan harian masyarakat, Selain merusak rumah warga, kawanan ini juga dilaporkan merusak area pemakaman di sekitar lokasi.

Ketua Sahabat Satwa Lembah Suoh sekaligus Anggota DPRD Lampung Barat, Sugeng Hari Kinaryo Adi, menyebutkan bahwa karakter kawanan gajah kali ini menunjukkan anomali yang mengkhawatirkan.

“Gajah-gajah ini sangat sulit digiring dan cenderung lebih agresif dibandingkan biasanya. Sudah 15 hari mereka bertahan di Danau Lebar. Kami menduga perubahan perilaku ini dipicu oleh krisis pakan di dalam hutan, sehingga mereka mencari sumber energi di permukiman,” ungkap Sugeng, Kamis (7/5/2026).

Tim lapangan dari Sahabat Satwa Lembah Suoh bersama masyarakat setempat terus berjaga siang dan malam. Berbagai metode telah dilakukan, mulai dari pemblokadean jalur hingga upaya penggiringan manual, namun kawanan gajah seolah tak tergoyahkan.

Saat ini, warga di wilayah rawan seperti Pekon Ringin Sari rutin menggelar ronda malam guna menghalau gajah agar tidak masuk lebih jauh ke area rumah tinggal.

Masyarakat mendesak pihak Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan BKSDA untuk segera turun tangan dengan langkah yang lebih konkret dan masif. Warga berharap ada solusi permanen guna mencegah jatuhnya korban jiwa dan meminimalisir kerusakan materi yang kian meluas. (Samson/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!