Lampung Utara- Langkah Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal untuk menjadikan dunia pendidikan di Provinsi Lampung lebih kepada penguatan karakter berbasis nilai humanis-religius, telah diberlakukan di SMAN 3 Kotabumi, Lampung Utara. Hal itu dibuktikan dengan penegakan kedisiplinan siswa yang dirancang secara elegan, humanis, dan berdampak jangka panjang.
Jika daerah lain memilih pendekatan fisik atau barak militer untuk merespons pelanggaran siswa, SMAN 3 Kotabumi mengambil jalan yang jauh lebih menyentuh akar permasalahan pembinaan kerohanian melalui Program Pesantren Kilat Wajib di luar jam sekolah.
Siswa yang melanggar tata tertib kini tidak lagi dijatuhi sanksi konvensional seperti skorsing atau tugas fisik yang kurang memberikan efek jera. Sebagai gantinya, mereka diwajibkan mengikuti program Pembekalan Rohaniah di pondok pesantren mitra secara intensif.
Refleksi diri dan pembenahan akhlak, fokus utama pembinaan adalah bimbingan rohani, pembiasaan ibadah, dan penanaman kesadaran moral, hak belajar tetap terjamin dimana kegiatan digelar sepenuhnya di luar jam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) agar siswa tidak tertinggal materi akademis. Selanjutnya sifat wajib dan edukatif menjadi bentuk komitmen tegas sekolah tanpa mengesampingkan pendekatan kasih sayang.
Plt. Kepala SMAN 3 Kotabumi, Bambang Nopriadi menegaskan bahwa kebijakan ini disusun bukan untuk menghukum, melainkan menerapkan prinsip restorative discipline (disiplin pemulihan).
“Kegiatan ini dilaksanakan di luar jam sekolah agar siswa tidak kehilangan hak belajar utamanya. Ini bersifat wajib bagi siswa yang melanggar regulasi sebagai bentuk komitmen kedisiplinan,” ujar Bambang.
Kebijakan visioner ini disambut hangat oleh para orang tua murid. Mereka menilai langkah ini sebagai benteng konkret dalam menjaga remaja dari ancaman perilaku negatif masa kini, seperti kenakalan remaja, tawuran, hingga bahaya judi online.
Melalui sinergi solid antara Pemerintah Daerah, institusi pendidikan, dan lembaga keagamaan, Lampung Utara berhasil menghadirkan warna baru dalam peta pendidikan nasional. Inovasi ini optimis mampu mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki ketahanan moral dan karakter yang kokoh. (Yogi/ Red)













