KALIANDA — Semangat gotong royong yang kembali bersemi di tingkat akar rumput sukses mengantarkan 40 desa di Kabupaten Lampung Selatan masuk dalam jajaran nomine peraih Lomba Desa HELAU (Harmonis, Elok, Lestari, Agamis, Unggul) Tahun 2026. Dari jumlah tersebut, saat ini seleksi telah mengerucut untuk menyaring 10 besar desa terbaik yang akan melaju ke tahap penilaian faktual demi memperebutkan 5 besar tingkat kabupaten.
Program unggulan yang digagas Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan di bawah kepemimpinan Bupati Radityo Egi Pratama ini terbukti tidak sekadar menghadirkan estetika lingkungan yang hijau dan tertata, melainkan berhasil membangkitkan kembali budaya kebersamaan masyarakat yang sempat meredup.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Lampung Selatan, Erdiyansyah, mengungkapkan bahwa penetapan 40 desa unggulan ini lahir melalui proses seleksi yang sangat ketat dan berjenjang dari total 260 desa dan 4 kelurahan se-Kabupaten Lampung Selatan.
Dalam penerapannya, setiap desa peserta diwajibkan memenuhi sebanyak 55 indikator penilaian utama yang mencakup aspek kebersihan, penataan lingkungan, kesehatan, keamanan, ketertiban, hingga partisipasi aktif masyarakat.
“Desa-desa menginput data ke dalam aplikasi yang sudah disiapkan. Hasil input tersebut kemudian dinilai oleh tim penilai, diverifikasi dan divalidasi hingga ke lapangan untuk desa yang memenuhi kriteria guna memastikan kesesuaian antara data, bukti, dan kondisi sebenarnya di lapangan,” ujar Erdiyansyah dalam keterangannya, Rabu (16/9/2026).
Erdiyansyah menilai, kunci keberhasilan dan daya tarik utama dalam Lomba Desa HELAU tahun ini adalah tingginya tingkat partisipasi warga. Perubahan nyata dapat dilihat langsung di lapangan melalui ruang publik yang kian terawat, drainase yang bersih, pengelolaan sampah yang mandiri, hingga kembali diaktifkannya pos-pos keamanan lingkungan (pos kamling) di berbagai wilayah.
“Dengan adanya Desa HELAU ini, masyarakat ikut berpartisipasi. Jadi tidak hanya aparat desa, tetapi masyarakat juga terlibat aktif dari awal. Mulai dari bersih-bersih lingkungan, penataan gapura, penanaman pohon, hingga pengelolaan sampah,” terangnya.
Seleksi ketat kini berlanjut untuk menentukan 10 urutan teratas. Tim penilai independen yang melibatkan unsur akademisi serta para ahli dari Universitas Lampung (Unila) bersama praktisi pembangunan desa akan turun langsung melakukan verifikasi faktual.
Nantinya, 5 desa terbaik yang lolos dari tahap ini akan diundang untuk mempresentasikan capaian, inovasi, serta keberlanjutan program di tingkat kabupaten di hadapan Bupati dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Lampung Selatan.
Lebih jauh, Erdiyansyah menegaskan bahwa esensi dari program HELAU jauh melampaui sekadar ajang perlombaan mencari juara. Target utama pemerintah daerah adalah memastikan nilai-nilai kebersihan, kepedulian sosial, dan kegotongroyongan berakar kuat menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat secara berkelanjutan.
“Targetnya bukan hanya perlombaan. Yang terpenting adalah budaya HELAU ini menjadi gerakan yang berkelanjutan, terutama dalam membangkitkan gotong royong, menjaga kebersihan lingkungan, dan memperkuat kepedulian masyarakat. Kalau sudah jadi budaya, desa akan maju dengan sendirinya,” tegasnya.
Berikut adalah daftar 10 Besar Desa HELAU Lampung Selatan Tahun 2026:
* Desa Sumber Sari, Kecamatan Sragi (Peringkat 1)
* Desa Baru Ranji, Kecamatan Merbau Mataram (Peringkat 2)
* Desa Hargo Pancoran, Kecamatan Rajabasa (Peringkat 3)
* Desa Bumi Asih, Kecamatan Palas (Peringkat 4)
* Desa Fajar Baru, Kecamatan Jati Agung (Peringkat 5)
* Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo (Peringkat 6)
* Desa Way Kalam, Kecamatan Penengahan (Peringkat 7)
* Desa Karang Pucung, Kecamatan Way Sulan (Peringkat 8)
* Desa Kerinjing, Kecamatan Rajabasa (Peringkat 9)
* Desa Kuripan, Kecamatan Penengahan (Peringkat 10).
(Wawan/Red)













