Rupiah Babak Belur, Tembus Rp17.949

JAKARTA, Studio2news – Badai pelemahan mata uang kembali menghantam Rupiah. Pada perdagangan sore ini, Rabu (1/7/2026), mata uang Garuda harus rela terkapar di level Rp17.949 per dolar AS. Rupiah tercatat terdepresiasi 42 poin atau 0,23 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Dilansir CNN Indonesia, Ini bukanlah fenomena tunggal, Rupiah terpuruk di tengah gelombang merah yang melanda hampir seluruh mata uang global, baik di Asia maupun negara maju, yang kompak tak berdaya di hadapan kedigdayaan dolar AS.

Sentimen negatif menyebar luas ke penjuru Asia. Yuan China tergelincir 0,10 persen, dolar Singapura melemah 0,18 persen, hingga peso Filipina yang terkoreksi tajam sebesar 0,47 persen. Nasib serupa dialami yen Jepang, won Korea Selatan, serta ringgit Malaysia yang semuanya berada dalam zona tekanan.

Di pasar negara maju, dolar AS juga menunjukkan dominasinya. Euro, poundsterling Inggris, dolar Australia, hingga franc Swiss kompak melemah, menegaskan bahwa dolar AS sedang berada dalam posisi “menguasai” pasar global.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa tren pelemahan ini dipicu oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang jauh lebih solid dari perkiraan.

Data tersebut langsung memicu ekspektasi pasar bahwa Ketua The Fed akan mengambil sikap hawkish isyarat kebijakan suku bunga tinggi yang lebih agresif dalam pidatonya malam nanti.

“Rupiah bersama mayoritas mata uang dunia melemah setelah data ketenagakerjaan AS yang kuat memicu ekspektasi pidato hawkish Ketua The Fed,” ungkap Lukman.

Tak hanya ditekan faktor eksternal, Rupiah juga sedang mengalami demam dari sisi domestik. Lukman menyoroti data perdagangan Indonesia yang mengecewakan. Penurunan nilai ekspor yang dibarengi dengan defisit neraca perdagangan pertama sejak April 2020 menjadi beban berat yang menghambat upaya pemulihan nilai tukar.

Kombinasi antara tekanan moneter dari bank sentral AS dan perlambatan sektor riil di dalam negeri kini menjadi tantangan serius bagi stabilitas ekonomi nasional. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!