Rampai Atau Cung Kediro (Solanum pimpinellifolium) Berasal dari Peru Utara, Pesisir Ekuador Selatan dan Amerika Selatan

Studio2- Di balik cita rasa pedas, asam, dan segar yang menggelegar dari olahan sambal khas Nusantara hingga gurihnya kuah pindang, terdapat satu bahan kunci yang kerap terabaikan yakni rampai. Buah bulat mungil berukuran sebesar kelereng ini sering kali hanya dipandang sebagai pelengkap masakan lokal. Padahal, di balik ukurannya yang kecil, buah ini menyimpan sejarah asal-usul yang menakjubkan serta deretan manfaat kesehatan dan sains yang luar biasa.

Buah bernama ilmiah Solanum pimpinellifolium ini bukanlah tanaman asli Indonesia, melainkan spesies tomat liar (currant tomato) yang berasal dari kawasan pesisir Ekuador dan Peru, Amerika Selatan. Melalui proses naturalisasi selama ratusan tahun, tanaman ini menyebar ke berbagai wilayah beriklim tropis dunia, termasuk kepulauan Nusantara. Di Indonesia, tanaman ini beradaptasi dengan sangat baik dan tumbuh subur secara alami di pekarangan rumah maupun ladang warga tanpa memerlukan perawatan rumit layaknya tomat budidaya biasa.

Tanaman yang tumbuh di berbagai pelosok Nusantara ini memiliki ragam sebutan lokal, seperti di Lampung buah ini dinamai Rampai dan menjadi pengganti tomat untuk membuat sambal serta untuk kebutuhan dapur lainnya. Sementara di Sumatera Selatan buah ini disebut cung kediro atau cung kedire di wilayah Sumatera Selatan. Di sana, buah mungil ini menjadi bahan dasar sambal cung yang segar hingga pelengkap rasa asam alami pada kuah pindang. Penggunaan luas ini membuktikan bahwa rampai merupakan bagian penting dari keanekaragaman kuliner dan kekayaan alam Nusantara secara umum.

Di balik statusnya sebagai tanaman liar, Solanum pimpinellifolium memegang peranan krusial dalam dunia sains, kesehatan, dan pemuliaan tanaman modern. Para peneliti mengategorikannya sebagai nenek moyang langsung dari tomat domestik modern dengan sederet keunggulan:

  • Pusat Antioksidan dan Nutrisi: Studi ilmiah menunjukkan bahwa rampai memiliki kandungan likopen, vitamin C, serta asam fenolik yang jauh lebih tinggi dibandingkan tomat biasa. Kapasitas antioksidannya pun jauh lebih unggul dalam menolak radikal bebas dan menjaga daya tahan tubuh.
  • Penyelamat Industri Tomat Dunia: Genom rampai yang berukuran 900 Mb memiliki kemiripan sangat dekat dengan tomat biasa (hanya berbeda 0,6% pasangan basa). Karena mampu bersilangan secara bebas dengan tomat komersial, rampai menjadi donor gen penting untuk menyuntikkan sifat ketahanan penyakit serta membantu pengaturan bentuk dan ukuran buah pada varietas tomat modern.

Meski tumbuh subur dan dimanfaatkan secara luas di Indonesia, keberadaan Solanum pimpinellifolium di habitat aslinya Peru utara dan Ekuador selatan justru kian terancam akibat pesatnya ekspansi lahan pertanian. Upaya penyelamatan plasma nutfah melalui pengumpulan benih internasional pun kini menghadapi tantangan regulasi di bawah ketentuan Convention on Biological Diversity (CBD). (Wikipedia/ Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!