Selat Sunda- Gunung Krakatau, kaldera vulkanik yang membentang di Selat Sunda antara Jawa dan Sumatra, terus menjadi perhatian ilmu pengetahuan global. Terdiri dari Pulau Panjang, Sertung, dan Rakata, kawasan ini menyimpan rekam jejak geologi dahsyat mulai dari pemisahan daratan prasejarah hingga erupsi abad ke-19 yang mengubah iklim dunia.
Krakatau berdiri tepat di atas zona penunjaman Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia. Kelokan busur kepulauan di kawasan ini menyebabkan batas antar-lempeng berubah arah secara tajam, membuat kerak bumi di sekitarnya luar biasa lemah dan memicu aktivitas vulkanik tinggi.
Penyebutan nama Krakatau tercatat dalam berbagai manuskrip sejarah:
- Teks Bujangga Manik (Akhir Abad ke-15): Naskah Sunda Kuno ini mencatat kawasan tersebut sebagai “pulo Rakata gunung ti tengah sagara”.
- Peta Lucas Janszoon Waghenaer (1611): Referensi Barat paling awal yang menamainya Pulo Carcata.
- Catatan Wouter Schouten (1658): Ejaan modern Krakatau pertama kali terdengar saat ia melintasi kawasan tersebut.
- Jurnal Edmund Roberts: Menyebut pulau tersebut dengan nama Crokatoa.
Etimologi nama Krakatau memiliki beberapa teori utama:
| Teori | Penjelasan |
| Bahasa Sanskerta | Berasal dari kata karka, karkaṭa, atau karkaṭaka (kepiting/lobster). Dalam Jawa Kuno, bentuk singkat rakaṭa juga berarti kepiting. Teori ini dinilai paling berdasar. |
| Onomatope | Tiruan suara burung kakatua (Kakatoes). Namun, teori ini disanggah oleh Van den Berg karena habitat kakatua berada di timur Garis Wallace. |
| Bahasa Melayu | Berasal dari kata kelakatu (semut bersayap). Pemetaan sebelum 1883 memperlihatkan formasi pulau menyerupai semut dengan sayap di sisinya. |
| Mitos Betawi | Berasal dari ungkapan “Kaga tau” saat warga lokal ditanya kapten kapal asing. Kisah ini dianggap sekadar mitos linguistik tanpa kredibilitas sejarah. |
Saat ini, Smithsonian Institution melalui Program Vulkanisme Global mengesahkan nama resmi Indonesia, Krakatau, meski istilah Krakatoa masih umum digunakan dalam literatur berbahasa Inggris.
Sebelum era modern, dinamika vulkanik di Selat Sunda tercatat dalam beberapa literatur:
Peristiwa 416 Masehi
Berdasarkan Pustaka Raja (Kitab Raja-Raja) abad ke-19, tercatat erupsi besar pada tahun 338 Śaka (416 M). Gunung Kapi (Krakatau) dilaporkan hancur dan tenggelam, memicu banjir besar yang memisahkan Pulau Jawa dan Sumatra. Namun, narasi ini belum ditopang oleh bukti geologis yang dapat diverifikasi secara ilmiah.
Hipotesis Letusan 535 Masehi
Peneliti David Keys dan Ken Wohletz sempat mengemukakan hipotesis bahwa erupsi Krakatau pada 535 M memicu perubahan iklim global tahun 536 M. Namun, hasil pengeboran modern di Selat Sunda telah menepis kemungkinan terjadinya letusan besar pada tahun tersebut.
Catatan Abad Pertengahan
Menurut Ian Thornton, Krakatau dikenal sebagai “Gunung Api” pada era Dinasti Sailendra, dengan perkiraan fase erupsi terjadi pada rentang tahun 850, 950, 1050, 1150, 1320, dan 1530 M.
Sebelum bencana besar 1883, aktivitas manusia di Kepulauan Krakatau terbilang minim. Pada 1620, Pemerintah kolonial Belanda mendirikan pangkalan angkatan laut dan galangan kapal di kawasan tersebut. Belanda sempat membuka perkebunan lada di akhir abad ke-17 dan mengoperasikan koloni hukuman pada 1809 selama satu dekade.
Pada 8 September 1832, ekspedisi kapal perang AS Peacock yang dipimpin Kapten Geisinger sempat singgah dan mendokumentasikan vegetasi serta alam bawah laut Krakatau, namun tidak menemukan sumber air tawar maupun pemukiman. Memasuki era 1880-an, kepulauan ini tidak lagi berpenghuni; pemukiman terdekat berada di Pulau Sebesi (12 km) dengan populasi sekitar 3.000 jiwa. Survei geologi singkat baru dilakukan pada Juli 1880 oleh geolog Belanda Rogier Verbeek.
Erupsi Dahsyat 1883: Bencana Global yang Mengguncang Dunia
Sebelum 1883, Pulau Krakatau utama terdiri dari tiga kerucut vulkanik yang menyatu: Rakata (820 m) di selatan, Danan (450 m) di tengah, dan Perboewatan (120 m) di utara. Aktivitas awal dimulai 20 Mei 1883, hingga puncaknya terjadi pada 26–27 Agustus 1883.
Daya Ledak Erupsi Krakatau 1883:[Bom Atom Hiroshima] = 1x[Tsar Bomba] = 3.250x[Krakatau 1883] = 13.000x (Setara 200 Megaton TNT / VEI 6)
Erupsi ini mencatatkan skala bencana yang sangat ekstrem:
- Daya Ledak & Jangkauan Suara: Memiliki Indeks Eksplosivitas Vulkanik (VEI) 6 dengan memuntahkan 25 km³ material. Gelombang tekanan suara mencapai 190 dB pada jarak 64 km (memecahkan gendang telinga para pelaut) dan 172 dB pada radius 160 km. Suara ledakannya terdengar sejauh 4.800 km hingga Perth di Australia dan Pulau Rodrigues dekat Mauritius.
- Gelombang Udara & Iklim: Gelombang tekanan udara mengelilingi bumi hingga 3,5 kali. Sebaran abu vulkanik di atmosfer menurunkan suhu rata-rata Belahan Bumi Utara sebesar 0,4 °C pada tahun berikutnya.
- Dampak Manusia: Ledakan menghancurkan dua pertiga struktur Pulau Krakatau dan memicu tsunami dahsyat yang meratakan 165 desa pesisir. Pemerintah kolonial mengonfirmasi 36.417 korban jiwa, meski beberapa perkiraan menyebut angka lebih dari 120.000 jiwa.
Gejolak Politik dan Kesadaran Global
Dampak letusan 1883 meluas ke ranah sosial-politik Hindia Belanda. Lima minggu pascabencana, timbul aksi perlawanan terhadap serdadu Belanda di Serang. Sentimen keagamaan dan keresahan sosial dimanfaatkan oleh tokoh lokal dan ulama antikolonial seperti Abdul Karim Amrullah yang bermuara pada Pemberontakan Petani Banten 1888.
Di tingkat Internasional, berkat jaringan kabel telegraf bawah laut yang baru berkembang, letusan Krakatau menjadi bencana alam pertama dalam sejarah yang dampaknya dipahami secara serentak di seluruh dunia, menandai lahirnya kesadaran global terhadap fenomena alam.
Kelahiran Anak Krakatau dan Potensi Bahaya Modern
Prakiraan Rogier Verbeek mengenai munculnya aktivitas baru terbukti. Pada 29 Desember 1927, letusan bawah laut muncul di bekas kawasan Perboewatan, hingga akhirnya membentuk pulau vulkanik permanen bernama Anak Krakatau pada Agustus 1930.
- Pertumbuhan: Gunung muda ini tumbuh rata-rata 5 meter per tahun. Pada 2017, ketinggiannya telah melebihi 400 m dpl.
- Longsoran & Tsunami 2018: Pada 22 Desember 2018, erupsi berkelanjutan menyebabkan keruntuhan tubuh gunung ke laut. Peristiwa ini memicu Tsunami Selat Sunda setinggi 5 meter di pesisir Banten dan Lampung, serta memangkas ketinggian Anak Krakatau secara drastis hingga tersisa 110 m dpl.
- Aktivitas Terkini: Memasuki dekade 2020-an, kerucut bara baru kembali tumbuh di dalam celah keruntuhan. Erupsi berkelanjutan terus tercatat, termasuk fase letusan aktif yang dimulai sejak 2 Juli 2026.
Laboratorium Alam dan Status Konservasi
Secara biologis, letusan 1883 sempat mensterilkan seluruh kehidupan di Kepulauan Krakatau. Pada Mei 1884, peneliti hanya menemukan satu ekor laba-laba di Pulau Rakata. Namun, ekosistem pulih dengan cepat melalui suksesi alami lewat benih yang terbawa arus laut dan kotoran burung.
Aktivitas manusia sempat tercatat kembali pada 1916 saat warga Jerman, Johann Handl, memperoleh izin penambangan batu apung dan bermukim di Rakata selama empat tahun yang diyakini menjadi pemicu masuknya spesies tikus hitam.
Untuk melindungi keanekaragaman hayati dan laboratorium biogeografi yang unik ini:
- 1921: Kawasan Krakatau resmi ditetapkan sebagai Cagar Alam.
- 1991: UNESCO mengukuhkan Cagar Alam Krakatau bersama Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Situs Warisan Dunia. (Wikipedia/ Red)













