Bandar Lampung- Dalam lembaran sejarah perjuangan Republik Indonesia, nama Letnan Jenderal TNI (Purn.) Alamsjah Ratu Perwiranegara terpatri indah. Lebih dari sekadar perwira militer dan Negarawan, Alamsyah adalah simbol keteguhan hati, kerendahan jiwa, serta cinta tanah air yang tak pernah padam hingga nafas terakhir.
Lahir di Kotabumi pada 25 Desember 1925 sebagai putra bungsu dari sembilan bersaudara pasangan Baharuddin Yoesoef dan Siti Mariam, Alamsjah ditempa oleh kedisiplinan sejak muda. Panggilan jiwanya membela tanah air membawanya memasuki pendidikan militer Giyugun pada masa pendudukan Jepang kawah candradimuka yang membentuk karakter kepemimpinannya di medan tempur.

Pasca-Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Alamsyah berada di garis depan pembentukan Penjaga Keamanan Rakyat (PKR) di Kotabumi dan Karesidenan Lampung. Namun, sejarah mencatat momen paling menyentuh saat kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) TNI diterapkan pada kurun 1948–1950. Pangkatnya yang semula Kapten Infanteri diturunkan menjadi Letnan Satu.

Bagi seorang prajurit, penurunan pangkat bisa menjadi ujian ego yang berat. Namun, Alamsjah membuktikan ketulusannya. Tanpa keluh kesah, ia menerima keputusan tersebut dan tetap setia mengabdi pada Ibu Pertiwi. Keikhlasan itulah yang memuluskan jalan kariernya hingga dipercaya memegang posisi strategis sebagai Kepala Staf Kodam IV/Sriwijaya serta mendalami ilmu militer di India dan Amerika Serikat.

Pengabdian Alamsjah tak berhenti di medan pertempuran. Sebagai Asisten VII/Keuangan Menteri/Panglima Angkatan Darat (1965–1967), hingga kiprahnya di jajaran Pemerintahan dan diplomasi, ia menunjukkan integritas tinggi.
Di balik ketegasannya, Alamsjah adalah sosok berhati lembut bagi keluarganya. Pernikahannya dengan Siti Maemunah pada 1952 dikaruniai lima putra-putri. Semangat baktinya melintasi generasi; sang putra sulung, Jusuf Haery Utama, melanjutkan jejak di parlemen DPR/MPR RI dan ICMI, sementara cucunya, Siti Khadijah Mikhailia Tikha Alamsjah, mengabdi dalam pembangunan daerah di Ogan Ilir.
Meski berjuang melawan penyakit jantung dan menjalani operasi by-pass di Singapura pada akhir 1980-an, nyala semangatnya untuk Bangsa tak pernah padam. Pada 8 Januari 1998, sang pahlawan menghembuskan nafas terakhirnya di Jakarta.

Negara melepas salah satu putra terbaiknya melalui upacara kemiliteran yang khidmat di Taman Makam Pahlawan Kalibata, dipimpin langsung oleh Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto. Alamsyah Ratu Perwiranegara telah berpulang, namun warisan keikhlasan, kerukunan, dan kesetiaannya akan terus abadi menyinari jalan generasi penerus bangsa.
Riwayat jabatan
- Perwira Administrasi / Kepala Staf Kompi Giyugun Pengawal Pantai di Krui, Lampung (1943 – 1944)
- Komandan Pleton Kesehatan, Kompi Giyugun Tanjungkarang, Lampung (1944 – 1945)
- Wakil Ketua Penjaga Keamanan Rakyat / PKR di Kotabumi, Lampung (1945)
- Sekretaris dan Ajudan Ketua PKR Karesidenan Lampung (1945)
- Instruktur Sekolah Opsir Kadet Divisi II TKR Komandemen Sumatra (1945 – 1946)
- Kepala Staf Operasi Divisi Garuda II Sub Komandemen Sumatera Selatan (1946 – 1947)
- Pejabat Kepala Staf Brigade Garuda Merah Divisi VIII / Garuda (1947)
- Pejabat Komandan Resimen 44 Brigade Garuda Merah Divisi VIII / Garuda (1947 – 1948)
- Komandan Batalyon 12 Sub Teritorial Palembang, TNI Sub Komandemen Sumatera Selatan (1948 – 1949)
- Kepala Seksi Operasi Brigade Sumatera Selatan, Tentara & Teritorium Sumatra (1949 – 1950)
- Kepala Seksi Operasi & Latihan Brigade X Tentara & Teritorium II / Sriwijaya (1950)
- Asisten II/Operasi Kepala Staf T&T II / Sriwijaya (1950 – 1954)
- Asisten I/Intelijen Kepala Staf T&T II / Sriwijaya merangkap Komandan KMKB Palembang (1954 – 1956)
- Kepala Staf Harian Penguasa Perang Daerah Sumatera Selatan (1956 – 1958)
- Kepala Staf T&T II / Sriwijaya kemudian menjadi Kodam IV / Sriwijaya (1958 – 1959)
- Perwira Siswa di Senior Officer Courses of the Infantry School, Mhow, India (1958 – 1959)
- Pamen Dpb Komando Pendidikan & Latihan Angkatan Darat (1959 – 1960)
- Pamen Dpb Deputi I Kepala Staf Angkatan Darat (1960 – 1961)
- Perwira Siswa di U.S Army General and Command Staff College, Fort Leavenworth, Kansas, USA (1961 – 1962)
- Wakil Asisten VII Menteri / Panglima Angkatan Darat (1962 – 1965)
- Asisten VII/Keuangan Menteri / Panglima Angkatan Darat (25 Oktober 1965 – 1967)
- Koordinator Staf Pribadi Ketua Presidium Kabinet Ampera (1966 – Februari 1968)
- Deputi 3/Urusan Khusus Menteri/Panglima Angkatan Darat (11 Mei 1967 – Februari 1968)
- Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesiapada Kabinet Pembangunan I (30 Januari 1968 – 1972)
- Sekretaris Proyek-Proyek Nasional
- Sekretaris Pengendalian Operasi Pembangunan (10 Februari 1968 –?)
- Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda(8 Januari 1972 – 22 Maret 1974)
- Pensiun dari Dinas kemiliteran
- Anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia(12 Maret 1975 – 31 April 1978)
- Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia(September 1977 – 31 April 1978)
- Menteri Agama Republik Indonesiapada Kabinet Pembangunan III (31 April 1978 – 19 Maret 1983)
- Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyatpada Kabinet Pembangunan IV (19 Maret 1983 – 1988). (Wikipedia/Red)













