Fenomena Vulkanik di Selat Sunda, Daratan Seluas 30,3 Hektare Muncul di Sekitar Gunung Anak Krakatau

Oplus_131072

LAMPUNG SELATAN — Perairan Selat Sunda kembali mencatat dinamika geologis yang menarik perhatian. Sebuah daratan baru seluas kurang lebih 30,3 hektare terpantau muncul di antara Pulau Gunung Anak Krakatau (GAK) dan Pulau Sertung.

Fenomena ini dipastikan bukan kemunculan yang terjadi secara instan, melainkan hasil akumulasi masif material vulkanik yang dimuntahkan selama rangkaian erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, membenarkan adanya formasi daratan baru tersebut.

“Oh iya, memang benar. Ya, hasil dari letusan kemarin itu. Kurang lebih 30,3 hektare,” ujar Suwarno saat dikonfirmasi, Rabu (23/9/2026).

Suwarno menjelaskan, material vulkanik tersebut mulai menumpuk dan terlihat seiring meningkatnya intensitas aktivitas vulkanik, terutama sejak status Gunung Anak Krakatau dinaikkan menjadi Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026. Keberadaan daratan baru ini kini telah masuk dalam radar pemantauan intensif petugas pos pengamatan karena posisinya yang berada persis di sekitar kompleks gunung api dan Pulau Sertung.

Kemunculan daratan baru ini seketika memicu berbagai spekulasi di tengah masyarakat, termasuk anggapan bahwa gundukan material tersebut akan menjadi cikal bakal gunung api baru atau yang kerap dijuluki sebagai “cucu Krakatau”.

Namun, pihak berwenang dengan tegas menepis asumsi tersebut. Ketika ditanya mengenai kemungkinan lahirnya gunung api baru dari daratan tersebut, Suwarno menjawab singkat, “Ya, enggak jugalah, enggak.”

Ia memaparkan bahwa secara ilmiah, terbentuknya daratan baru di permukaan tidak serta-merta menunjukkan adanya saluran magma baru di bawah lokasi tersebut. Meskipun magma selalu mencari celah terlemah untuk keluar, kondisi nyata di bawah permukaan bumi tidak bisa disimpulkan hanya dari material yang menumpuk di atas perairan.

“Kalau masalah akan keluar cucunya, belum kita ketahui. Namanya di dalam bumi, kita enggak tahu,” tambahnya.

Hingga saat ini, material pembentuk daratan tersebut diyakini masih berkaitan erat dengan sistem saluran utama Gunung Anak Krakatau, dan belum dapat dipastikan apakah titik tersebut berpotensi menjadi pusat erupsi baru.

Di tengah kemunculan fenomena daratan baru ini, aktivitas vulkanik utama Gunung Anak Krakatau justru menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan hasil evaluasi kegempaan, aktivitas erupsi, dan deformasi, status gunung api tersebut resmi diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak Senin (21/9/2026) pukul 18.30 WIB.

Kendati status aktivitasnya telah diturunkan, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tetap mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat, nelayan, serta wisatawan.

Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau guna mengantisipasi segala kemungkinan potensi bahaya vulkanik susulan. (Wawan/Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!