Buka Lampung Financial Festival 2026, Menko Pangan & Gubernur Ajak Gen Z Garap Bisnis Pangan Digital

Bandar Lampung- Pemerintah Provinsi Lampung bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mendorong percepatan literasi keuangan dan penguatan sektor pangan bagi generasi muda dalam gelaran Lampung Financial Festival 2026 di Hotel Novotel, Bandar Lampung, Sabtu (5/9/2026). Rangkaian acara dua hari ini ditujukan untuk menjembatani jurang antara akses layanan finansial digital dan tingkat pemahaman masyarakat.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan pentingnya literasi keuangan bagi Gen Z dan Post-Gen Z yang mendominasi lebih dari 45 persen populasi di Lampung. Menurut data resmi, indeks inklusi keuangan daerah ini telah menyentuh 90,94 persen, namun indeks literasi keuangannya masih berada di angka 72 persen.

“Akses masyarakat terhadap layanan keuangan jauh lebih mudah dibandingkan tingkat pemahaman menggunakannya. Kesenjangan inilah yang harus diatasi. Generasi muda tidak hanya dituntut menjadi pengguna teknologi seperti QRIS, tetapi juga harus mampu masuk sebagai pelaku ekosistem bisnis digital,” tegas Gubernur.

Potensi transaksi digital Lampung mencatatkan nilai sebesar Rp1,87 triliun dari 22,4 juta kali transaksi melalui 889 ribu merchant QRIS. Didukung pertumbuhan ekonomi daerah sebesar 5,29 persen—salah satu yang tertinggi di Sumatra bonus demografi ini dinilai menjadi modal strategis untuk memperkuat daya saing ekonomi daerah.

Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS Farid Azhar Nasution menjelaskan bahwa festival ini merupakan kelanjutan dari program edukasi terpadu yang sebelumnya sukses digelar di Yogyakarta. Program ini difokuskan untuk memperkuat kepercayaan publik terhadap sistem keuangan formal sekaligus membentengi masyarakat dari ancaman finansial era digital.

“Anak muda perlu mewaspadai berbagai risiko digital seperti pinjaman online ilegal, judi online, investasi bodong, hingga belanja impulsif berbasis algoritma. Kuncinya ada pada disiplin keuangan: menyisihkan uang di awal, berbelanja sesuai kebutuhan, serta investasi pada karakter dan pengetahuan,” ujar Farid.

Hal senada disampaikan Rektor Universitas Lampung (Unila) Lusmeilia Afriani. Ia menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor antara perguruan tinggi, regulator, dan otoritas jasa keuangan untuk menghadirkan edukasi keuangan berbasis praktis dan riset. Sementara itu, Anggota Komisi XI DPR RI Marwan Cik Asan menambahkan agar kemudahan akses teknologi tidak justru menjerumuskan pelajar dan mahasiswa ke dalam jebakan utang digital yang merusak masa depan.

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan menggarisbawahi keterkaitan erat antara pengelolaan keuangan, teknologi, dan kemandirian pangan. Mengingat Lampung merupakan salah satu lumbung pangan nasional, ia mendorong Gen Z untuk mengambil peran dalam hilirisasi komoditas unggulan seperti kopi, pisang, dan singkong agar menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

“Pangan adalah fondasi kedaulatan negara dan peradaban. Generasi muda harus memiliki critical thinking dan problem solving. Jangan hanya berorientasi menjadi pencari kerja setelah lulus, tetapi mulailah membangun usaha dan memanfaatkan ekosistem digital sejak dini,” pesan Zulkifli.

Melalui sinergi antara literasi keuangan, pemanfaatan teknologi digital, dan pengembangan sektor pangan hayati, Lampung Financial Festival 2026 diharapkan dapat mencetak generasi muda yang mandiri secara finansial serta siap mendukung pencapaian visi Indonesia Emas. 9Sandi Putra/ Red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!