Lampung Selatan- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan melalui Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan mengintensifkan pemantauan terpadu selama 24 jam penuh. Langkah ini diambil guna merespons dinamika aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda yang saat ini bertahan pada Status Level III (Siaga).
Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) Anak Krakatau, gunung api tersebut sempat mengalami erupsi menerus berupa fenomena lava fountain (air mancur lava) sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23:07 Wib dan baru mereda pada Minggu (6/9/2026) pukul 00:04 Wib. Selama periode tersebut, terekam gempa letusan dengan amplitudo 70 mm berdurasi hingga 21.600 detik (6 jam) yang disertai dentuman serta sinar api.
Aktivitas vulkanik berlanjut pada Minggu (6/9/2026) pagi dengan terekamnya beberapa kali letusan susulan, di antaranya pada pukul 03:53 Wib dan pukul 07:10 Wib dengan amplitudo maksimum 50 mm. Rangkaian kegempaan pasca-erupsi menerus juga mencatat adanya gempa hembusan, low frequency, hybrid, vulkanik dangkal, hingga tremor menerus (microtremor).
Pemantauan citra satelit RGB Himawari-9, PVMBG, serta laporan BMKG per pukul 09:00 WIB mengidentifikasi dua klaster utama sebaran abu vulkanik:
- Lapis Bawah (Permukaan – 20.000 kaki): Bergerak ke arah Timur Laut hingga Selatan, melingkupi wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya.
- Lapis Atas (Permukaan – 50.000 kaki): Bergerak ke arah Barat Daya hingga Barat Laut, melintasi sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudera Hindia.
Erupsi ini juga memicu fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan peningkatan aktivitas petir vulkanik di wilayah Lampung Selatan serta Serang. Merespons sebaran abu vulkanik tinggi tersebut, AirNav Indonesia menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) terkait penutupan sementara operasional beberapa bandara demi keselamatan penerbangan, meliputi Bandar Udara Radin Inten II, Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, dan Budiarto.
Meskipun aktivitas vulkanik tergolong tinggi, analisis data dari 20 sensor tsunami gauge dan sistem High-Frequency (HF) Radar Array di pesisir Carita serta Tanjung Lesung menunjukkan kondisi muka air laut tetap normal tanpa anomali hingga pukul 07:00 Wib. Probabilitas terjadinya tsunami berada di tingkat rendah (di bawah 40%) dengan tinggi gelombang laut terjaga aman di kisaran satu meter.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lampung Selatan, Maturidi, mengimbau masyarakat pesisir khususnya nelayan dan warga dari Kecamatan Rajabasa hingga Katibung untuk tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan.
“Kondisi muka air laut terpantau normal tanpa anomali dan probabilitas tsunami berada di tingkat yang sangat rendah. Kami meminta masyarakat menyaring informasi dengan baik dan tidak mudah terprovokasi isu hoaks. Pusdalops PB dan Tim Reaksi Cepat BPBD Lampung Selatan bersiaga penuh 24 jam,” tegas Maturidi.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Lampung Selatan, Erwan Fatriansyah, mengingatkan warga agar mewaspadai paparan abu vulkanik lapis atas yang melintasi wilayah Lampung.
“Kami mengimbau warga di daerah terdampak untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, menguraikan risiko kesehatan dengan menggunakan masker standar, serta memakai pelindung mata dari paparan debu vulkanik. Selain itu, dipatuhinya rekomendasi PVMBG adalah hal mutlak: masyarakat, wisatawan, maupun pendaki dilarang keras mendekati kawah aktif Gunung Anak Krakatau dalam radius aman 3 kilometer,” ujar Erwan.
BPBD Kabupaten Lampung Selatan meminta masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi resmi dari BMKG, PVMBG, dan BPBD setempat. Untuk layanan darurat dan pelaporan kejadian bencana di wilayah Lampung Selatan, masyarakat dapat menghubungi Pusdalops PB BPBD Lampung Selatan via WhatsApp/Telepon di nomor 0823-5892-4600. (Wawan/ Red)













