Studio2- Di sudut ruang tamu berukuran 3×4 meter, Bambang (52) masih mengingat jelas saat jemari mungil itu menggenggam erat dua jari telunjuknya. Belasan tahun lalu, di ruangan yang sama, ia membungkukkan punggung selama berjam-jam, menuntun langkah demi langkah kecil anak tunggalnya, Rizky (19), yang saat itu baru belajar berdiri.
Bagi Bambang, mengajarkan anak berjalan bukan sekadar memindahkan kaki kanan dan kiri. Itu adalah ikhtiar menanamkan keberanian dan memori kasih sayang yang ia harap tak akan pernah terkikis oleh waktu.
“Saya selalu bilang ke Rizky waktu dia masih kecil ‘Jalan yang tegak, Nak. Tapi kalau sudah bisa lari jauh, jangan lupa siapa yang memegang tanganmu waktu kamu pertama kali berdiri,’” ujar Bambang sambil tersenyum menatap putranya yang kini sudah berkuliah.
Sejak istrinya berpulang ketika Rizky baru berusia tiga tahun, Bambang mengambil peran ganda. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai pekerja lepas ini merawat Rizky seorang diri. Mulai dari menyiapkan sarapan, memastikan asupan gizi sang anak terpenuhi, hingga terjaga di larut malam saat Rizky demam.
Tumbuh kembang Rizky dirawatnya dengan penuh ketelitian. Bambang tak hanya peduli pada pendidikan formal Rizky, tetapi juga membentuk mentalitas dan ingatannya akan akar keluarga. Setiap kali Rizky mencapai milestone baru seperti hari pertama masuk sekolah atau saat pertama kali menjuarai lomba lari Bambang selalu mengingatkan satu hal yakni rasa syukur dan kerendahan hati.
Menuntun tanpa mengekang: Bambang memberi kebebasan Rizky memilih jalan hidupnya, namun tetap menjadi tempat pulang saat Rizky terjatuh.
Menanamkan akar memori: Lewat cerita-cerita kecil saban malam, Bambang memastikan Rizky paham betapa setiap jengkal tinggi badannya hari ini dibayar oleh doa dan pengorbanan seorang ayah.
Kini Rizky tumbuh menjadi pemuda yang mandiri dan berprestasi. Pria yang dulu tertatih-tatih melangkah itu kini siap melangkah lebih jauh ke dunia dewasa
“Bapak cuma ingin saya jadi manusia yang ingat dari mana saya berasal, dan siapa yang pertama kali memegang tangan saya sewaktu saya belum bisa apa-apa. Serta Ayah selalu berpesan kepada saya, jika saya sudah bisa dan menjadi orang hebat tetaplah rendah hati dan jangan angkuh,”urai Rizky
Kisah Bambang dan Rizky adalah pengingat sederhana di tengah riuhnya dunia, bahwa setinggi apa pun seorang anak melangkah dan berlari, tetaplah mengadakan dalam ingatan ada sosok yang pernah membungkukkan badan demi mengajarinya berdiri, meski sosok tersebut itu mungkin tidak lagi berguna. (Vicko)













