Jakarta- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat langkah mitigasi dan pemantauan wilayah terdampak pascaaktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi risiko bencana serta memastikan keselamatan masyarakat di sekitar kawasan terdampak.
Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto, menegaskan bahwa koordinasi intensif telah dijalankan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat Kabupaten. Fokus utama koordinasi mencakup pemantauan kondisi terkini di lapangan, identifikasi dampak sosial-ekonomi masyarakat, hingga pendataan kebutuhan logistik mendesak.
Sebagai langkah konkret penanganan cepat, BNPB membagi fokus respons ke dalam beberapa instrumen utama:
- Penerjunan Tim Ahli: Sebanyak 10 personel teknis ditugaskan langsung ke area pemantauan untuk mengawasi aktivitas vulkanik secara berkala dan memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah.
- Optimalisasi Jalur Evakuasi: Pemeriksaan ulang terhadap infrastruktur mitigasi bencana termasuk keandalan sistem sirine peringatan dini, keterbacaan rambu petunjuk evakuasi, serta kesiapan pasokan logistik di gudang penyimpanan.
- Pengendalian Kualitas Udara: BNPB menggandeng Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengoperasikan Modifikasi Cuaca (OMC) dan menyiagakan teknologi water mist guna menekan persebaran abu vulkanik di atmosfer.
Melalui integrasi lintas lembaga ini, BNPB berkomitmen meminimalkan dampak paparan abu vulkanik terhadap kesehatan masyarakat serta memastikan kesiapsiagaan sistem peringatan dini di sepanjang wilayah pesisir yang rawan. (Red)













