Studio2- Malam dingin di Rembang, Purbalingga, Januari 1916. Tangis halus seorang bayi bernama Soedirman menyambut dunia dari balik dinding bambu yang bersahaja. Tak ada yang menduga, jemari mungil yang gemetar menahan dingin malam itu kelak akan memegang pendar panji kemerdekaan Bangsa. Tumbuh besar dalam asuhan paman dan tradisi priyayi yang santun, masa kecil Soedirman dipenuhi ujian ketabahan, mulai dari kehilangan ayah angkat hingga berjuang menahan lapar demi terus bersekolah di Wirotomo.

Menjelang dewasa, ia mendedikasikan hidupnya sebagai guru Muhammadiyah di Cilacap, menyunting Alfiah, dan menanamkan cinta tanah air kepada murid-muridnya. Namun, kedamaian itu terusik saat pendudukan Jepang meluas. Panggilan jiwa memanggilnya menanggalkan kapur tulis dan mengikatkan pedang samurai PETA pada 1944. Karier militernya melesat cepat dari komandan batalion hingga terpilih menjadi Panglima Besar Tentara Kemerdekaan Rakyat (TKR) pada November 1945 di usia muda. Kemenangan gilang-gemilang di Ambarawa makin menegaskan ketokohannya, tetapi penyakit tuberkulosis (TBC) perlahan merayap dan menggerogoti paru-parunya.
Puncak krisis kesehatan Soedirman terjadi pada November 1948 ketika dokter terpaksa mengempeskan paru-paru kanannya. Sang Panglima terbaring lemah, hanya mengandalkan satu sisa paru-paru untuk bernapas. Namun, sejarah tak memberinya waktu untuk beristirahat. Tepat pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer II, menguasai Yogyakarta, dan menawan para pimpinan sipil.

Meski tubuhnya pucat pasi dan dilarang bertugas oleh tim medis, Soedirman tetap memilih menolak menyerah. Di hadapan para petinggi, ia menyuarakan keteguhan jiwanya yang tak pernah padam.
“Yang sakit itu Soedirman, Panglima Besar tidak pernah sakit.”

Sambil menahan rasa sakit luar biasa, ia menginstruksikan perang gerilya melalui siaran RRI, membakar dokumen penting rumah dinasnya, lalu berangkat menembus belantarai Jawa. Karena tak lagi sanggup berjalan, ia ditandu oleh prajurit-prajuritnya yang setia. Perjalanan mendaki bukit terjal, menyeberangi sungai deras, dan menembus hujan peluru musuh didanai secara bersahaja—salah satunya dari hasil penjualan perhiasan istrinya, Alfiah.
Garis Waktu Perjuangan Gerilya dan Pengorbanan
- 23 Desember 1948: Melanjutkan perjalanan ke Ponorogo dan menerima bantuan tongkat dari ulama setempat, K.H. Mahfuz.
- 24 Desember 1948: Menghindari kepungan musuh dan meninggalkan Kediri tepat sebelum serangan udara Belanda mendarat.
- 27 Desember 1948 – 9 Januari 1949: Tiba di Desa Jambu untuk berkonsolidasi dengan menteri kabinet seperti Supeno dan Susanto Tirtoprojo.
- 18 Februari 1949: Mendirikan markas gerilya di Desa Sobo, dekat Gunung Lawu, sembari terus mengomandoi pasukan via radio. Untuk mengelak dari buruan musuh, Letnan Heru Kesser bersedia memimpin sekompi pasukan berpakaian mirip Soedirman sebagai taktik pengalihan.
- 1 Maret 1949: Mengusulkan dan mengordinasikan Serangan Umum 1 Maret yang dipimpin Letkol Soeharto, berhasil menguasai Yogyakarta selama 6 jam dan membuktikan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih berdiri tegak.
- 10 Juli 1949: Kembali ke Yogyakarta setelah Perjanjian Roem-Royen demi menjaga persatuan nasional, disambut tangis haru rakyat yang melihat tubuh sang pahlawan kian kurus, kempot, dan terseret.
Tugas dunianya berakhir setelah Belanda secara resmi mengakui kemerdekaan Indonesia pada akhir Desember 1949. Tepat pada 29 Januari 1950 pukul 18.30 Wib hanya satu bulan setelah pengakuan kedaulatan tersebut napas terakhir Soedirman berhembus di Magelang akibat komplikasi penyakit TBC yang menggerogotinya. Ia berpulang pada usia yang sangat muda, 34 tahun.

Duka mendalam mengangkasa di seluruh pelosok negeri. Bendera setengah tiang dikibarkan, dan ribuan rakyat berbaris menundukkan kepala bersimbah air mata di sepanjang jalan menuju Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Indonesia tak sekadar kehilangan seorang jenderal terbaiknya, tetapi melepas sepotong jiwa Republik yang rela mengorbankan sisa napas dan fisiknya demi memastikan bangsanya dapat bernapas bebas dalam kemerdekaan. (Wikipedia/ Red)













